Berguru: Belajar Cara Cukur Rambut dan Bisnis dari Baberman Profesional

tukang cukur rambut presiden

Delapan bulan di rumah saja, siapa hayo yang sudah gondroooong? Hahaha…. Jangankan delapan bulan, beberapa bulan awal pandemi COVIC-19, kami sekeluarga sudah gondrong-gondong kaya model iklan shampoo. Tapi ya gimana, mau potong rambut ke salon, nggak berani kan, karena Corona. Lagipula saya punya komorbid dan juga sedang hamil, jadi makin nggak berani untuk keluar-keluar rumah. Sementara mau mandiri, ga ada yang ngerti cara cukur rambut di antara kami. Jadi awalnya ditahan-tahanin. Awalnya….

Sampai kemudian, saya yang paling nggak tahan gerah, akhirnya nekat minta dipotong rambutnya sama suami. Dan berakhir penyesalan. Hahaha…. Kanan ama kiri beda modelnya bok. Tapi yauda anggap aja mode baru ya….

Bagaimana dengan rambut suami? Setelah PSBB selesai di Surabaya, dia menyempatkan diri nyari babershop yang menerapkan protokol kesehatan. Huh, padahal saya sudah pengen balas dendam gantian cukurin rambutnya gitu. Hahaha…

tutorial cukur rambut

Dari pengalaman selama pandemi ini, saya jadi merasa kalau skill untuk cukur rambut itu termasuk life skill yang cukup penting deh. Apalagi untuk kaum Adam ya, yang notabene sering diminta berpenampilan cepak. Setidaknya buat diri sendiri atau orang terdekat dulu. Syukur-syukur kalau ternyata skill cukur rambut tersebut bisa jadi bisnis atau mata pencaharian.

Tutorial Cara Cukur Rambut: Nonton 15 Menit, Auto Bisa Cukur Sendiri?!?!?

Buat yang pengen punya bayangan gimana si sebenarnya cara cukur rambut yang baik, temen-temen bisa nonton video BERGURU dari akun Youtube Ninjaxpressid dibawah ini. Tenaaaaang, narasumbernya bukan saya kok, hahaha.

Narasumbernya adalah Pak Herman. Beliau sangat terpercaya, karena bahkan presiden Republik kita tercinta, Bapak Jokowi memasrahkan potongan rambutnya pada Beliau.

Simak videonya berikut ini:

Click Picture to Play!

Video di atas adalah video dari akun Ninjaxpressid sebagai bentuk dukungan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia. Aku rasa video di atas bermanfaat banget ya, buat yang mau mencukur rambut temen atau anggota keluarganya. Biar ga malpraktik gituuuu kaya pengalaman saya, huhuhu. Selain untuk menjaga kesehatan, acara cukur rambut juga bisa buat quality time juga selama di rumah saja kan.

Nah, buat yang belum sempat nonton video di atas, aku kasih sedikit gambaran dari tutorialnya yaaaa….

tutorial cara cukur rambut

Tentu saja foto dua dimensi di atas sangat terbatas untuk menggambarkan bagaimana gerakan tangan yang dicontohkan Pak Herman. Ada juga trik Pak Herman memberikan pengamanan sebelum tahapan mencukur, agar pelanggan tetap nyaman dan aman saat dicukur rambutnya. Pokoknya mending tonton langsung deh!

Tonton di sini: Tutorial Cukur Rambut

Kisah Dari Hobi Jadi Bisnis: Modal Minimal Dua Juta, Keuntungan Berjuta-juta

Selain memberikan tutorial serta tips dan trik memotong rambut, Pak Herman juga menceritakan bagaimana awalnya beliau memulai bisnis cukur rambutnya dari hobi. Bapaknya Pak Herman sendiri juga jago dan punya usaha cukur rambut, jadi memang dari muda Pak Herman sudah familiar dan memiliki skill mencukur yang baik.

Skill itulah yang akhirnya membawa Pak Herman menjadi baberman hits karena mencukur rambut Bapak Presiden Jokowi.

Oiya, selain hits, juga cuan juga tentunyaaa….

Pada video di atas, Randhika Jamil, pembawa acaranya sempat bertanya berapakah keuntungan rata-rata dari bisnis cukur rambut Pak Herman. Pak Herman bisik-bisik kalau, sebelum pandemi, keuntungan bisnisnya bisa mencapai satu juta rupiah. Itu keuntungan rata-rata setiap harinya.

Mantap kan ya, mengingat kata Pak Herman modal uang yang diperlukan, minimalnya hanya sekitar dua juta rupiah loh. Tentu saja skill yang mumpuni juga harus dimiliki. Nah, Beliau juga membagikan pengalaman apa saja yang harus dipersiapkan agar dapat menjadi Baberman yang sukses di video Belajar Bisnis Cukur Rambut dari Barberman Presiden RI.

Beberapa pesan dari Beliau aku rangkum di gambar di bawah ini, tapi selengkapnya ada di video di atas ya….

tips bisnis barber

Demikian video tentang Pak Herman, yang mengajarkan tentang bagaimana cara cukur rambut serta bagaimana menjadikan hobi cukur rambut tersebut menjadi suatu bisnis yang menguntungkan.

Peluang Bisnis Cukur Rambut di Tengah Pandemi Covid-19

Saya pikir, bisnis cukur rambut ini pun tetap bisa dijadikan peluang usaha di kala pandemi ya. Mengingat banyak orang yang ragu untuk keluar rumah, memang sedikit peluang untuk membuka kios. Namun, sebaliknya, terbuka peluang yang besar untuk membuat usaha “Barber Keliling”. Jadi pelanggan tidak perlu datang ke tempat cukur rambut, namun Barbermannya yang datang ke rumah dengan perjanjian terlebih dahulu.

Inovatif kan. Tentu saja ditambah dengan berbagai protokol kesehatan dan sterilisasi alat, pelanggan pasti akan tenang dan percaya pada layanan Barber Keliling ini.

tukang cukur rambut presiden

Habis nonton video ini saya seneng banget si. Salut, terutama sama Ninjaxpress.co yang niat banget bikin konten yang berfaedah kaya gini. Selain informatif, menurut saya konten-konten kaya gini tu juga membawa optimisme di masa pandemi.

FYI, selain melalui channel Youtubenya, Ninjaxpress.co juga punya Ninja Academy lo. Website ini berperan sebagai sarana edukasi sebagai bentuk komitmen Ninjaxpress menjadi mitra UMKM. Buat temen-temen yang punya usaha, bisa banget mampir ke website mereka di ninjaacademy.co ya.

Semoga sharingku kali ini bermanfaat! Boleh banget buat kasih komennya di bawah yaaa!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Belajar dari Jenahara, Bisnis saat Pandemi: Menciptakan dan Memanfaatkan Ide dan Peluang Usaha

ide dan peluang bisnis saat pandemi

Temen-temen yang mengikuti saya di Instagram mungkin juga sudah tahu ya, kalau saya pun punya online shop (olshopnyonya x @muridkecil) untuk buku-buku anak. Nah, sayangnya bisnis saat pandemi ini kaya setengah mati suri gitu, karena saya yang mengurangi aktivitas pembelian dan juga pengiriman due to physical distancing. Lebih tepatnya sebenarnya juga karena saya bingung si, apa yang harus saya lakukan gitu menghadapi perubahan serta ide dan peluang usaha saat pandemi ini.

Di satu sisi, saya melihat peluang usaha masih besar, karena anak-anak kan banyak yang “dirumahkan” terutama yang preschool/ daycare. Keberadaan olshop saya tentunya dapat menyediakan buku anak atau peralatan lain terkait untuk membantu para ibu. Cuma ada keraguan juga, melihat daya beli masyarakat di tengah pandemi ini. Saya yakin banyak juga teman-teman yang sudah memiliki bisnis atau ingin memulai bisnis yang merasakan keraguan yang sama.

ide dan peluang bisnis saat pandemi

Makanya saya seneng banget pas nonton video OASIS (Obrolan Asik Seputar Bisnis) di Youtube, salah satu narasumbernya adalah Jenahara ini.

Buat yang mungkin belum familiar dengan Jenahara, beliau desainer sekaligus pengusaha di bidang fashion muslimah. Usianya sekarang adalah 35 tahun, dan telah mendirikan labelnya sendiri, Jenahara, pada tahun 2011 (9 tahun lalu).

Di video OASIS ini, Jenahara bareng Soleh Solehudin ngobrol santai, tapi ada beberapa poin yang menurut saya penting dan bisa dipraktikkan buat saya maupun teman-teman UKM terkait “Menciptakan dan Memanfaatkan Tren” khususnya untuk kepentingan bisnis di tengah pandemi ini:

Tips Bisnis Saat Pandemi #1

Eksekusi Ide dan Peluang Usaha Itu Penting, But Don’t Rush Your Bussiness

tips 1 ide dan peluang bisnis saat pandemi

Saat membangun brand Fashion khusus Muslimah/ Hijab, Jenahara dulu memilih untuk menunggu waktu yang tepat untuk mengeksekusi ide dan peluang usaha fashionnya. Nggak tanggung-tanggung si nunggunya sampai bertahun-tahun sejak lulus dari sekolah desainer. Hal ini karena dia melihat saat itu market pasar fashion hijaber usia muda memang belum ada. Mengingat para pengguna hijab kebanyakan adalah ibu-ibu usia paruh baya.

Bahkan Jenahara sempat turut membangun komunitas hijaber terlebih dahulu, selain untuk sharing value bahwa perembuan berhijab, selain memenuhi panggilan syariat, pun bisa berkarya dan tetap menunjukkan eksistensi sesuai karakternya, dia pun dapat mempelajari karakteristik dari para hijaber ini.

Nah, tapi bukan berarti lalu nunggu nunggu terus tanpa eksekusi ya. Di sesi tanya jawab Jenahara sempat menegaskan kembali kalau poinnya bukan di kata “menunggu” tapi mengetahui waktu yang tepat dan eksekusi.

Eksekusi di waktu yang tepat.

Kapan waktu yang tepat itu? Waktu yang tepat adalah momen dimana sudah ada market atau ada kebutuhan akan barang tertentu.

Jadi baik eksekusi dan timing sama-sama penting. Seperti saat ini, timingnya adalah pandemi. Momennya apa? Lalu produk yang dibutuhkan apa? Maka eksekusi bisnisnya dapat memanfaatkan tren/ momen tersebut.

Contohnya, bagi penggiat fashion hijab, bagaimana kemudian memanfaatkan momen tersebut dengan mengadaptasi produk hijabnya dengan masker kain, dll.

Tips Bisnis Saat Pandemi #2

Punya Ciri Khas – Memberikan Alternatif Pilihan

tips 2 ide dan peluang bisnis saat pandemi

Memanfaatkan tren itu tidak sama dengan ikut-ikutan.

Belajar dari OASIS – Jenahara, ketika ingin brand atau produk kita memiliki tepat di hati konsumen, malah sebaiknya memiliki ciri khas berbeda dari produk yang telah tersedia di pasaran. Namun harus pintar-pintar melihat ciri khas apa yang ingin ditonjolkan yang menjadi jawaban bagi masyarakat, atau alternatif yang akan dipilih oleh target pasar kita.

Contohnya, Jenahara saat menyadari bahwa market pasar fashion hijaber (yang menarget kawula mula) telah siap, Jenahara menawarkan desain-desain yang berbeda dengan desain pakaian muslimah saat itu.

Jenahara memilih untuk menjual pakaian dan hijab secara terpisah dengan kromasi warna hitam serta practical untuk kegiatan seharian. Namun pakaian-pakaian maupun hijab ini mudah dipadukan dengan paduan yang lebih proper untuk acara yang lebih formal atau acara lainnya.

Hal ini sesuai dengan value yang diusung Jenahara yang ingin mendukung karya perempuan hijaber dengan maksimal. Jika produk yang tersedia di pasar sebelumnya adalah setelah baju dan jilbab yang telah diset paten, dengan bunga-bunga dan aksesoris dari hijab sampai bawahan, maka produk Jenahara memberikan alternatif lain bagi kawula muda untuk melakukan mix match sesuai dengan kebutuhan dan tentunya juga dengan karakter masing-masing pribadi.

Tips Bisnis Saat Pandemi #3

Terus Belajar Menghadapi Perubahan dan Peluang Usaha

tips 3 ide dan peluang bisnis saat pandemi

Yang saya salut, Jenahara di sesi ini cerita jatuh bangun usahanya dengan santai. Hihihi, walaupun saya tahu, pasti menjalaninya berat ya. Karena bahkan ada “masa jatuh” yang cukup lama di tahun 2015, yang dia bilang mempengaruhi kehidupan pribadinya juga. Tapi yang saya salut adalah semangatnya untuk belajar dari pengalamannya tersebut.

Untuk masa pandemi Covid-19 inipun Jenahara merasakan dampaknya. Hal ini karena pandem Covid terjadi bertepatan dengan masuk bulan puasa ya. Dimana produksi pakaian muslimah sedang tinggi, namun kemudian diberlakukan PSBB yang menghambat retail maupun pengiriman barang.

Yang ditekankan oleh Jenahara, dalam menghadapi Covid-19, secara implisit dalam paparannya adalah sebagai berikut:

  1. Respon untuk melakukan perubahan rencana yang cepat.
  2. Mengenali karakteristik usaha, misalnya retail harus mempelajari usia barang/ usia barang di toko.
  3. Mempelajari trik marketing, seperti misalnya saat menentukan Diskon harus bisa membandingkan usia barang vs daya beli masyarakat, agar tidak rugi, dll.

Oh, iya, Jenahara juga sedikit menyinggung tentang bisnis barunya di dunia kuliner yaitu Pizza. Yang sedikit banyak tentunya memiliki perbedaan antara pengelolaan, ide serta peluang usaha dibandingkan dengan bisnis pakaian sebelumnya. Ketiga hal di atas juga diterapkannya pada bisnis kulinernya.

Sebenarnya banyaaaaaaaaak poin-poin lain yang nyelip nyelip di tengah percakapan Soleh Solehudin sama Jenahara. Hihihi… Cuma kan agak bingung ya nulisnya, karena nanti jadi puanjaaaaang banget, dan temen-temen jadi pusing. Hihihi….

Saya pribadi si menyarankan temen-temen nonton langsung aja seri OASIS yang dihelat oleh NinjaXpress untuk para pelaku bisnis mikro kaya saya dan juga UMKM. OASIS ini juga nggak hanya satu video Jenahara. Ada narasumber-narasumber lain yang diundang setiap minggunya, yang bisa kita petik juga pengalamannya saat berbisnis yang kemungkinan juga bisa kita adaptasi di bisnis kita.

OASIS ide dan peluang bisnis saat pandemi
Klik Gambar!

Selain OASIS di Youtube, NinjaXpress juga punya pelatihan Ninja Academy untuk mendukung UMKM, loh. Temen-temen bisa cari tahu info lebih lanjut tentang pelatihan ini dan OASIS di www.ninjaacademy.co.

Kalau untuk video-video OASIS teman-teman bisa akses di link video ini yaaaa! Adakah teman-teman yang sudah memiliki bisnis atau sedang ingin membangun bisnis di tengah pandemi ini? Tetap semangat yaaa, semoga berkah usahanya! Semoga insight di atas bermanfaat! Salam sayaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Realistis terhadap Biaya Sekolah Anak

Kalau ngomongin biaya sekolah yang tiap tahun meningkat, pasti rame deh di grup ibu-ibu. Ada banyak pendapat, tentunya, terutama kalau menyangkut tema “biaya sekolah sekarang mahal”, “metode pendidikan yang paling sesuai” serta “pertimbangan memilih sekolah”.

Dan pro kontra pasti tidak akan menemukan ujung, soalnya kan, standar dan preferensi orang kan beda-beda ya…. Standar mahal misalnya. Apa yang buat saya mahal, mungkin buat orang lain tidak. Atau sebaliknya. Begitu pun dengan metode yang diterapkan di sekolah. Bisa jadi untuk saya, metode A adalah yang terbaik, sementara bagi keluarga lain metode B adalah yang paling tepat.

So, kalau saya dan suami berpendapat, yang penting realistis aja ya. Terutama untuk masalah biaya. Yuk mareeee #timrealistis merapaaatttt!!!

Pertimbangan Agar Realistis

Untuk dapat berpikir secara realistis, ada beberapa hal yang perlu diperbandingkan dengan nominal biaya sekolah anak yang akan orang tua pilih.

  1. Fokus pada tujuan.
  2. Mutu pendidikan yang diberikan.
  3. Kemampuan keuangan keluarga.

1 . Fokus pada tujuan.

Saat konseling keluarga dengan seorang psikolog, saya sempat curi-curi bertanya tentang sekolah anak. Konteks pertanyaan saya saat itu adalah kami galau apakah anak kami perlu masuk playgroup atau tidak. Yang pertama ditanyakan oleh Psikolog tersebut adalah, “Tujuannya (masukin anak sekolah) apa dulu ni?”

Saya dan suami sempat pandang-pandangan. Jawaban versi saya adalah karena saya ingin punya tandem pendidik yang professional dalam mengasuh anak saya. Sementara suami saya menekankan kekawatirannya atas kemampuan anak bersosialisasi,kalau sehari-hari hanya berdua dengan saya saja.

Akhir dari diskusi kami, akhirnya kami memilih untuk tidak memasukkan Gayatri playgroup. Hal itu karena tujuan yang disebutkan tadi dapat dicapai dengan cara lain yang lebih hemat. #nooffense untuk yang memilih untuk menyekolahkan anak di usia dini ya, karena kondisi keluarga kan beda-beda. Saya menceritakan hal ini, dengan latar belakang kondisi keluarga kami yang sedang transisi pekerjaan, jadi lebih menitikberatkan ke penghematan, nyaaahhh.

Uangnya bisa kami alokasikan ke dana pendidikan SD, yang menurut kami lebih wajib. Hal ini tentu saja bisa berbeda di masing-masing kondisi ya. Misal, saya memutuskan untuk kembali bekerja, pendidikan anak usia dini di lembaga pendidikan tentu naik prioritasnya.

Nah, sekarang, membicarakan biaya pendidikan TK – SD dan seterusnya, prinsipnya sama juga. Catat apa yang menjadi tujuan yang ingin dicapai. Hal ini memudahkan kita juga untuk mendefinisikan frasa “sekolah bagus” yang bisa jadi sangat subyektif menjadi parameter-parameter yang lebih jelas.

Contoh: dalam suatu keluarga parameter pendidikan agama di sekolah bisa jadi nilai utama dalam pemilihan sekolah, dalam keluarga lain bisa jadi komponen penilaian utamanya adalah materi berwirausaha. Atau bisa jadi keluarga lainnya mungkin membutuhkan sekolah yang khusus, yang memiliki fasilitas terapi, karena anaknya special needs. Tentu komponen tambahan ini juga akan menentukan biaya sekolah yang dibebankan.

Saat kita harus memilih di antara banyak pilihan baik, maka fokus pada tujuan dan parameter-parameter tersebut, akan memudahkan kita untuk membandingkan dan menentukan mana yang paling cocok.

2 . Biaya yang dikeluarkan harus sesuai dengan mutu pendidikan yang diharapkan.

Realistis bukan berarti pasrah. Kesadaran untuk realistis, mendorong saya untuk mempertanyakan apakah sekolah yang sedang dijajaki value for money atau tidak. Mahal jika sebanding dengan kualitas, rasanya tidak akan mengecewakan. Namun, jika mahal, namun hanya menjual embel-embel belaka, tidak sesuai dengan mutunya, sepertinya kok sakitnya dobel dobel ya. Di hati dan di kantong.

Orang tua kan mengejar isi, bukan bayar mahal demi gengsi.

Makanya saya salut sekali dengan seorang teman, yang rela trial di banyak sekolah untuk memastikan label montessori yang dilekatkan pada sekolah, benar-benar dipraktikkan. Prinsipnya, nama besar bukanlah jaminan. Pada seorang rekan yang lain juga. Dia dengan tegas mendaftarhitamkan salah satu sekolah dengan embel-embel bilingual, saat survey dan mendengar sendiri bagaimana pronouciation pengajarnya saat summer camp.

Survey, survey, survey. Mungkin itu adalah kunci, supaya biaya yang kita keluarkan worth every pennies. Mama nggak mau rugi!

3 . Memperbandingkan biaya sekolah dengan kemampuan.

Memang sedih dan juga pasti terbersit rasa bersalah ketika nantinya menemukan sekolah yang memenuhi poin pertama dan kedua di atas, namun ternyata melebihi budget. Pilihannya ada dua: menurunkan standar atau mencari strategi lain. Intinya adalah menjaga agar balance dan tidak mengorbankan stabilitas keuangan keluarga.

Yang saya dan suami usahakan adalah tetap dalam koridor tidak berhutang melebihi kemampuan bayar serta juga tidak mengorbankan DANA PENSIUN.

Yang boleh diotak atik adalah biaya operasional sehari-hari, yaitu dengan menurunkan gaya hidup atau berhemat. Namun, pos asuransi, hutang, hunian serta dana pensiun, menurut kami sebaiknya tidak diutak-atik.

CONTOH*), gambaran sederhananya seperti ini:

  • Hutang biasanya dipatok 30% dari penghasilan,
  • 10% untuk perpuluhan (atau 2,5% untuk zakat),
  • 5% untuk asuransi (berdasar pengalaman kami, karena hanya asuransi jiwa, askes ditanggung kantor),
  • investasi (dana pensiun, dll) 10%,
  • dana darurat (kami 0% karena sudah terpenuhi).
  • Sisanya untuk operasional sehari-hari, gaya hidup dan dana pendidikan, total sebesar 45%.
  • Maka apabila ingin memberikan porsi yang besar untuk dana pendidikan, maka dana operasional seperti makan, dll, atau gaya hidup mau tidak mau harus ditekan.

*)Persentase ini tidak saklek ya. Mungkin bagi keluarga tertentu perlu ada post untuk support orang tua, silakan disesuaikan.

Terdengar seperti tidak mau berkorban demi masa depan anak ya? Padahal justru karena demi masa depan anaklah, maka orang tua tidak boleh mengesampingkan dana pensiun.

Bayangkan, jika kita lalai mempersiapkan dana pensiun atau bahkan masih memiliki hutang saat sudah tidak produktif atau belum memiliki hunian saat usia lanjut, anak juga yang akan menjadi korban. Karena harus menanggung kita, orang tuanya sekaligus menanggung cucu-cucu kita nantinya. Alias menjadi sandwich generation.

Mempersiapkan Dana Pendidikan

Walaupun bikin deg-degan, saya bersyukur sekali, karena jaman sekarang sudah mudah mencari informasi tentang biaya sekolah di media sosial. Saya jadi bisa tahu besaran uang yang harus dipersiapkan sejak jauh hari. Berkaitan dengan pertimbangan di atas, kalau kita merasa, sekolah yang diharapkan itu mahal, maka ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan:

1 . Mempersiapkan biaya jauh-jauh hari.

Jangan lengah karena merasa, masih lama. Karena makin lama waktu persiapan, sebenarnya makin baik. Apalagi jika teman-teman bisa berinvestasi di instrument yang tepat. Total uang yang harus dispent bisa tidak sebesar jika persiapannya lebih singkat.

2. Mencari tambahan penghasilan.

Persiapan yang lebih lama, juga akan memungkinkan orang tua untuk mencari tambahan penghasilan. Penghasilan tambahan tersebut bisa khusus dialokasikan untuk dana pendidikan. Dengan demikian bisa meminimalisasi risiko berhutang.

Saya sendiri tidak anti berhutang untuk pendidikan anak. Namun, perlu diingat, ketika memutuskan berhutang, orang tua harus mengetahui betul sumber dana yang akan digunakan untuk membayar hutang. Jangan sampai terjerat hutang dengan bunga yang berlipat ganda, yang pada akhirnya nanti akan membebani sampai usia pensiun.

Ingat, ketika masa pensiun tiba dan utang belum selesai, anak jugalah yang akan menjadi korban akhirnya.

3. Mencari alternatif lain.

Kalau strategi pertama dan kedua sudah mentok, agar tidak mengganggu stabilitas keuangan keluarga, mau ga mau kita mengendurkan standar ya. Misal, dengan memilih sekolah yang lenih terjangkau.

Sementara apabila pilihan sekolah yang dikendurkan, orang tua masih bisa mencari alternatif untuk back up, seperti beasiswa, tambahan les/ kursus atau mendampingi anak melakukan pengembangan diri secara mandiri. Karena sesungguhnya, memang tugas orang tualah untuk mendampingi anak-anak dalam pendidikannya.

Memang pilihan yang sulit, dan tentunya, pilihan untuk menurunkan standar ini saya rasa baru boleh diambil jika kita sudah mencoba melakukan beberapa strategi terlebih dahulu. Last option, sampai titik darah penghabisan.

Jadi ya kesimpulannya???? Semangaaaaaaattt!!!

Teriring doa dari ibu yang anaknya masuk sekolah lima tahun lagi….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share