Gaya Hidup Minim Sampah Makanan

Dulu saya pikir, sampah rumah tangga yang wajib untuk diminimalisasi hanyalah sebatas sampah non-organik. Karena saya pikir, sampah organik, seperti sampah makanan, toh akan terurai dengan sendirinya di alam, kembali menjadi tanah. Masalah selesai.

Namun, ternyata pikiran saya tersebut salah.

Kebiasaan masyarakat pada umumnya, termasuk juga saya, membungkus sampah organik di dalam plastik, ternyata menimbulkan masalah baru. Sampah organik yang terbungkus, dan bertumpuk tumpuk dengan sampah anorganik akan mengalami penguraian secara an-aerob, karena kurangnya sirkulasi udara.

Sampah organik yang terurai secara anerobik akan menghasilkan gas rumah kaca. Gas tersebut antara lain metana (CH4) sebanyak 50 – 60%, karbondioksida (CO2) sebanyak 35 – 45 % serta sisanya sebanyak 0 – 5% gas rumah kaca lainnya (sumber).

Gas Rumah Kaca Akibat Sampah
Metana (CH4)
Karbondioksida
Lainnya

Sampah, Gas Rumah Kaca dan Pemanasan Global

Hal tersebut bukan hanya sekedar masalah baru, melainkan masalah besar karena gas rumah kaca adalah gas yang “menyerap” sinar matahari dan menahan radiasi/ panas sinar matahari tersebut tetap berada di atmosfer bumi yang kemudian berdampak kepada pemanasan global.

Seperti kita ketahui bersama, bukti pemanasan global tidak dapat dipungkiri lagi seperti meningkatnya suhu bumi, perubahan iklim, mencairnya es di kutub, naiknya permukaan air laut, yang diakui secara sadar atau tidak, mengancam kesejahteraan hidup umat manusia.

 Hal sehari-hari yang tampaknya sederhana, yaitu “sampah”, dalam hal ini “sampah makanan”, ternyata jika dilihat secara komprehensif, memiliki sumbangsih yang besar atas bencana yang sedang dan akan dialami oleh umat manusia. Teman-teman bisa membaca laporan penelitian, perkiraan, dll terkait perubahan iklim di sini.

Sadari Akumulasi Sampah Sehari-hari

“Ah, masa si segitunya…. Kan sampah saya sedikit!,” mencoba denial.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, rata-rata penduduk Indonesia memproduksi sekitar 0,68 kilogram sampah per hari per orang, dimana sebagian besarnya adalah sampah domestik (sumber). Hal ini berarti tiap orang rata-rata menghasilkan 248,2 kg sampah per tahun. Bahkan ada sumber lain yang menyebutkan, sampah yang dihasilkan sebanyak 300 kg per orang per tahun.

Kalau harapan hidup manusia sekarang sekitar 70 tahun, berarti berapa banyak sampah yang dihasilkan satu orang seumur hidupnya ya?

0
kilogram sampah

Diperkirakan 1 ton sampah padat dapat menghasilkan 50 kg gas metana. Maka dalam setahun, satu orang penduduk rata-rata menghasilkan 12,41 kg gas metana hanya dari sampahnya saja. Belum lagi karbondioksida yang dihasilkan dari sampah dan juga dari kegiatan lainnya.

Saya membayangkan di usia saya sekarang, 30 tahun, berarti gas metana yang saya hasilkan adalah sebanyak 372,3 kg. Hanya membayangkan gas metana yang saya hasilkan saja, auto merasa berdosa.

0
kilogram metana

Perlu diingat juga bahwa gas rumah kaca memiliki waktu tinggal di atmosfer yang berbeda-beda. Gas karbondioksida misalnya, memiliki waktu tinggal selama 50-200 tahun (Kendra, 1997), sementara gas metana memiliki waktu tinggal selama 10 tahun, namun dengan potensi pemanasan global 21 kali lebih besar dari karbondioksida.

Jangan-jangan kita sudah mati, gas rumah kacanya masih ada dan kita wariskan ke anak cucu kita…. Huhuhu….

Dah daripada hanya merasa berdosa tanpa langkah aksi, mending ngobrolin hal-hal apa saja yang bisa kita lakukan sehari-hari untuk mengurangi sampah makanan kita yuk!

Gaya Hidup Minim Sampah Makanan: Penerapan Strategi 3 Pintu

Dalam bukunya, Mbak DK. Wadhani yang berjudul #belajarzerowaste Menuju Rumah Minim Sampah, Beliau membahas Strategi 3 Pintu yang dikutipnya dari Kota Tanpa Sampah. Strategi inilah yang kemudian saya adopsi di rumah untuk mewujudkan gaya hidup minim sampah.

1 . Strategi Pintu Depan

Bu DK Wardhani menyebutkan jika strategi ini berada pada tahap prakonsumsi. Dengan kata lain, kita sudah meminimalisasi sampah makanan dari sebelum kita membeli makanan atau bahan makanan.

Cara yang biasa saya lakukan di rumah adalah:

  • membuat perencanaan makanan (meal plan) selama seminggu dan membuat list belanjaan berdasarkan meal plan tersebut,
  • tidak membeli makanan (dalam hal ini lauk atau snack) selama lauk dan snack di rumah masih ada,
  • membeli bahan makanan dalam jumlah yang telah diperhitungkan dapat habis dengan tepat.

2 . Strategi Pintu Tengah

Strategi ini fokus pada bagaimana memanfaatkan sumber daya makanan yang telah masuk ke rumah dengan seoptimal mungkin, hingga sampah makanan yang timbul dapat diminimalisasi.

Cara yang paling efektif bagi kami adalah dengan melakukan meal prep. Yang saya maksudkan dengan meal prep adalah meal preparation secara batch satu minggu sekali. Atau dengan kata lain, saat weekend, saya menyiapkan bahan makanan mentah (dicuci, dikupas, dipotong-potong, diblansir, dll) untuk seminggu dan membuat sebagian lauk matang/ setengah matang yang kemudian di bagi per porsi dan disimpan di kulkas dan atau dibekukan. Lalu pada weekday saya tinggak memasak bahan tersebut.

Cara ini saya lakukan setidaknya sejak 2018. Memang tidak serta merta berhasil si. Ada trial error terlebih dahulu untuk menemukan cara meal prep yang paling cocok. Saya pernah menuliskan kisah coba coba saya di beberapa artikel berikut:

Namun, walau teknik meal prep masing-masing kelurga bisa berbeda-beda, namun ada beberapa hal yang secara umum penting untuk diperhatikan agar meal prep yang ingin dilakukan dapat sukses:

  • kenali waktu maksimal penyimpanan sayuran, buah, daging, ikan dan makanan lainnya untuk mencegah pembusukan saat penyimpanan,
  • pelajari cara membaca kode pada kemasan makanan untuk dapat menentukan kualitas makanan yang disimpan,
  • kenali bagaimana cara menyimpan bahan makanan di dalam chiller/ frezeer dan bagaimana perlakuan penyimpanan terbaiknya.

Terdengar ribet ya, tapi percayalah, ketika sistem tersebut sudah menjadi gaya hidup, maka akan menjadi mudah dan seperti otomatis saja. Manfaat yang dirasakan dari meal prep, selain meminimalisasi sampah, adalah efisiensi waktu memasak di dapur serta penghematan uang belanja. Hihihi….

3 . Strategi Pintu Belakang

Strategi pintu belakang adalah strategi mengelola makanan yang tidak akan kami konsumsi agar tidak menjadi sampah. Langkah-langkah yang sering kami lakukan adalah:

  • berbagi makanan jika memiliki makanan terlalu banyak (bukan sisa lo ya), biasanya saya saling berbagi dengan saudara ipar dan kadang dengan ibu katering langganan. Buat teman-teman yang memiliki makanan berlebih namun bingung mau membagikannya ke siapa, teman-teman bisa menghubungi ke komunitas-komunitas berikut: Garda Pangan, Bandung Food Smart City, dll. Mereka memiliki program berbagi makanan yang bisa teman-teman ikuti.
  • men”daur-ulang” makanan menjadi menu yang lain agar tidak bosan. Misalkan: ada sisa rendang atau krengsengan daging sisa lebaran, kami olah lagi menjadi isian martabak telur, dll.
  • jika ada sisa makanan maka last choicenya adalah mengomposnya. Cara mengompos favorit saya sebenarnya adalah cara yang paling sederhana: menggunakan gerabah atau lubang di tanah, lalu membuang makanan (sebagai bahan green) dan dilapis dengan sampah daun kering (sebagai bahan brown). Cara ini saya praktikan saat masih tinggal di landed house. Nah, pas pindah ke apartemen, saya hanya punya space kosong di balkon seukuran 80 cm x 120 cm. Jadi mau ga mau harus pakai komposter mini. Walau jujur saya belum terbiasa mengompos dengan komposter ini tapi tetap semangat mencobanya!

Memang yang saya lakukan belum sempurna. Kadang semangat juga turun saat malas menerpa. Saya sengaja mengikuti beberapa komunitas penggiat zero waste di Instagram, supaya ada pengingat dan juga supaya lebih termotivasi karena merasa ada teman seperjuangan.

Buat teman-teman yang sedang sama-sama belajar menerapkan gaya hidup minim sampah makanan, semangaaaaat yuuuk! Kalau mau sharing dan ninggalin tipsnya boleh juga loh! Terimakasih! Salam sayang!

Disclaimer: Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog “Gaya Hidup Minim Sampah Makanan” yang diselenggarakan oleh Bandung Food Smart City, adapun pdapat dan kisah dalam artikel di atas murni adalah pendapat dn pengalaman penulis.

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *