Perbandingan Tiga Maskapai Penerbangan Full Service (Garuda, Sriwijaya, Batik Air)

Perbandingan Maskapai Penerbangan Full Service Economy Class: Garuda, Sriwijaya dan Batik Air. Kalau ditanya mana yang paling oke dari ketiga maskapai penerbangan tersebut? Tentu saja semua akan dengan mudahnya bilang Garudaaaaa!!!!

Anti klimaks banget yesss….

Hehehe, tapi ya mau gimana lagi yak, emang betul si, Garuda so far maskapai penerbangan domestik yang paling nyaman buat bawa bayi. Tapi ga nyaman di dompet ibu dan bapak. Ihihi…. Sama satu lagi, saya pegel banget kalau dapet gate paling ujungnya Ultimate 3. Jauh banget bok. Tar lengkapnya saya ceritain di bawah.

maskapai penerbangan

Sebelumnya saya mau cerita secara umum dulu tentang perbedaan maskapai penerbangan full service dengan yang low cost sebagai berikut:

  1. Jarak antar kursi relatif lebih besar dari pada maskapai low cost (kecuali Sriwijaya, menurut saya, hehehe). Ini penting buat saya yang punya suami segede dan setampan Chriss Prat jaman main Jurassic World. Karena ruang antar kursi yang lebih lebar membuatnya lebih nyaman. Lebih nyaman juga untuk saya yang duduk sambil menggendong bayi, yang sudah mulai aktif bergerak.
  2. Sebagian maskapai penerbangan full service memberikan layanan hiburan berupa monitor untuk menonton film, video atau mendengarkan musik. Bebera
  3. Makanan dan minuman diberikan secara gratis. Buat perjalanan jarak pendek palingan dapat snack sama air mineral segelas. Kalau jarak panjang, bisa dapat makan berat.

Related Post: Pengalaman menggunakan 3 Maskapai Penerbangan Domestik Low Cost

Pengalaman Berkesan Menggunakan Garuda

Yang saya suka dari Garuda, penumpang yang bawa bayi dapat memilih extra legroom seat dengan tanpa tambah bayar. Kalau di Air Asia atau Citilink kan harus bayar tu…. Trus penumpang yang bepergian dengan bayi bisa dapat pinjaman keranjang bayi (baby bassinet). Tapi saya belum pernah memanfaatkan fasilitas ini soalnya selalu jarak dekat, dan Ning Gaya juga lebih nyaman kalau duduk saya pangku. Lebih mudah neneninnya.

Oiya, extra legroom seat merupakan kursi pada kompartemen ekonomi yang memiliki ruang kaki lebih luas daripada kursi ekonomi lainnya pada penerbangan Garuda Indonesia. Extra legroom seat terletak pada baris pertama (first row) dan emergency exit row dari kompartemen ekonomi.

Daaaaaan, yang paling saya suka lagi (bawa ataupun ga bawa bayi) adalah makanan Garuda ini adalah yang paling enak di antara maskapai penerbangan domsetik lain. Baik snack maupun makan beratnya. Makanan beratnya pun bisa memilih antara kentang dan ikan atau nasi dan daging. Untuk penerbangan jarak jauh, lumayan banget menyegarkan perut dan perasaan. Saya kalau lapar galak soalnya. Trus, bisa memesan makanan bayi pada rute-rute tertentu.

Hanya saja, di Garuda tidak boleh membawa stroller ke kabin, info dari web. Semua stroller harus di bagasikan.

Yang perlu diperhatikan saat menggunakan Garuda saat membawa bayi dengan Garuda adalah ketentuan cek in-nya. Garuda tidak mengizinkan penumpang yang membawa bayi untuk web check in. Ini cukup menyulitkan, karena kalau kita check in di hari H, tentu sudah keciiiiil sekali kemungkinan mendapatkan extra legroom seat. Itu yang saya alami di penerbangan pertama saya dengan Ning Gaya. Mana kalau haus check in di hari H kan berarti harus dateng lebih awaaal, daaan nunggu lebih lama. Lumayan ga nyaman aja kalau lama di jalan sama bocah.

Namun, ternyata bisa diatasi dengan city check in di konter darat. Saya merasa bodoh karena tidak tahu hal tsb awalnya. Apalagi setelah tahu kalau di mall dekat kantor ada konter darat Garudaaaa…. eeeekkkkk…. (tapi ternyata yang deket kantor saya itu ga bisa ding). So, untuk yang mau melakukan perjalanan bersama bayi dengan Garud, city check in is a must! Cari infonya ulu di counter terdekat, siapa tahu layanan tersebut available di sana.

Related post: kisah pengalaman pertama saya membawa bayi pada usia 4 bulan.

Kemudian jika melakukan perjalanan dengan Garuda via Soekarno Hatta, mohon spare waktu  yang cukup untuk check in. Karena gatenya jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh dari konter check in. Saya pernah dapet gate 26. Dan saat itu belum banyak mobil golf yang wara-wiri anter penumpang antar gate. Jadi harus nunggu agak lama baru dapet mobil pengantar. Untung kami berangkatnya pagi. Kalau enggak kan gempor jalan buru-buru sambil gendong bayi.

Gempor dan berotot tentunya.

Untuk masalah hiburan di atas pesawat Garuda juga patut diacungi jempol. Ada monitor + earphone. Serta majalahnya juga bagus.

Pengalaman Berkesan Menggunakan Sriwijaya

Pengalaman paling berkesan menggunakan Sriwijaya adalah saat saya dan Ning Gaya hanya berdua menuju kampung halaman. Sementara suami menggunakan mobil jenazah, mengiring almarhumah Mbah Uti, mama mertua saya.

Keberangkatan dari 2F Bandara Soekarno Hatta. Perasaan saya agak limbung. Namun, entah mengapa saya merasa beruntung saat itu Sriwijaya very helpful. Penerbangan tepat waktu. Pramugarinya juga ramah. Beberapa kali pramugari menawarkan mainan (jualan) kepada Gayatri. Saya tahu, semuanya tidak berlebihan. Namun pas.

Sampai sekarang saya masih teringat rasa cookies cokelat yang dibagikan di atas pesawat. It was a little bitter but sweet. Walaupun maskapai ini bukan favorit suami saya karena jarak antar kursinya paling sempit di antara maskapai penerbangan, namun saya selalu menantikan untuk bisa menikmati cookies cokelat itu tadi.

Oiya,  info dari petugas darat Sriwijaya, kami tidak boleh membawa stroller ke kabin.

Saat menggunakan Sriwijaya usia bayi saya kurang lebih 9 bulan, kami tidak dimintai dokumen apapun. Hanya membawa tiket infant (seharga kurang lebih Rp 50.000,00 perjalanan dari Semarang – Jakarta).

 

Pengalaman Berkesan Menggunakan Batik Air

Penerbangan pertama saya menggunakan Batik Air cukup melumerkan cap tidak terlalu baik dari “Lion Air”, group seperusahaannya. Terutama karena Batik Air memiliki ruang kursi yang lebar dan sangat nyaman.

Untuk makanannya tidak terlalu spesial. Yang paling spesial ya itu: ruang antar kursinya.

Selain ruang antar kursi, saya cukup terkesan dengan adanya USB port di setiap seat. Lumayan buat ngecharge. Hehehe…. Oiya, di Batik Air juga menyediakan monitor untuk menonton film, video atau sekedar mendengarkan musik. Tapiiiiii, earphonenya nggak gratis kaya Garuda. Tapi harus dibeli dengan harga sekitar Rp 25.000,00.

Untuk yang kupingnya agak rewel (seperti suami saya), lebih baik membawa earphone sendiri deh. Hehehe….

Untuk penerbangan menggunakan Batik Air, boleh membawa stroller yang dapat ditekuk (seperti pockit) info dari petugas darat Bandara Ahmad Yani. Petugas tersebut menekankan, “Cuma boleh yang kecil ya mbak, stroller yang kecil yang bisa ditekuk itu ya Mbak”. Siaaaappp!

Ketentuan yang saya baca di web Lion Air (group) terkait mengangkut bayi adalah sbb:

“Lion Air berhak untuk tidak mengangkut bayi berusia kurang dari dua (2) hari dan bayi yang berusia antara tiga (3) dan tujuh (7) hari harus disertai dengan Sertifikat Kesehatan yang menyatakan bahwa bayi tersebut cukup sehat untuk melakukan perjalanan udara. Sertifikat Kesehatan tersebut harus diterbitkan 72 jam sebelum waktu keberangkatan. Batas usia maksimum bayi adalah kurang dari 2 tahun. Bayi yang melakukan perjalanan udara dengan Lion Air harus disertai dengan Formulir Ganti Rugi yang ditandatangani oleh orangtuanya.”

Namun untuk poin formulir ganti rugi tidak diminta kepada kami saat itu. :) Saat menggunakan Batik air yang adalah Lion Air group usia anak saya 10 bulan.

love love

Terimakasih sudah membacaaa…. Kalau teman-teman punya pengalaman lain terkait tiga maskapai penerbangan di atas, boleh banget lo share pengalamannya di komen. Karena bisa jadi pengalaman yang kita miliki berbeda, dan pasti akan bermanfaat buat Nyonyah-nyonyah lain yang membaca….

Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

3 Senjata Supaya Aman Menyusui di Tempat Umum

Sebenarnya mau nulis tentang ini tuh uda lamaaaaa banget gara-gara lihat seorang Ibu yang menyusui anaknya sambil mengendarai sepeda motor. Yes, bukan dibonceng yak. Tapi si Ibunya yang mengendarai sepeda motor. Heroik! Tapi aku agak agak gimana gitu ngeliatnya, selain tidak aman juga tidak nyaman ya bagi beliau dan yang melihatnya. No offense dan no judging ya.

Saya pribadi sebenernya ga anti menyusui di tempat umum. Apalagi setelah pengalaman penerbangan terakhir, Gayatri agak rewel di pesawat dan maunya nenen dari antri masuk sampai santri keluar, saya jadi menyadari kalau ada kalanya menyusui di tempat umum dan mengambil risiko “terlihat” memang diperlukan.

Namun, teteeeuuup, sebagai perempuan, saya berpendapat kalau harus ada usahanya juga dong untuk menutup aset diri. Yang penting usaha yak, kalau ternyata nanti terlihat karena kondisinya tidak memungkinkan sama sekali untuk menutupi ya, sudahlah. Yang penting sudah berusaha.

Berikut 3 Senjata Supaya Aman Menyusui di Tempat Umum:

1 . Baju Menyusui

Senjata satu ini sepertinya sudah populer banget ya. Saya sendiri punya beberapa yang kebanyakan dibeliin, hihihihi. Bahan dan modelnya bermacam-macam pula. Ada yang formal dan semi formal sehingga bisa dipakai ngantor, ada juga yang berbahan kaos yang super kasual. Berikut contoh yang saya punya:

menyusui di bandara

Foto di atas diambil di Bandara Juanda Surabaya. Saya kalau terbang harus banget pakai baju menyusui. Soalnya pas take off dan landing kan bayi (sebaiknya) harus senantiasa menyusu. Agar telinganya tidak bindeng karena perbedaan tekanan udara. Gerakan menyusu dan menelan akan mengurangi risiko bayi mengalami sakit telinga. Menggunakan baju menyusui ini praktis banget karena di atas kursi pun saya bisa menyusui Gayatri dalam posisi duduk. Bahkan pernah saat dalam kondisi berdiri. Tinggal di buka akses menyusui yang ada di kanan atau kiri baju, tangkupkan kepala bayi, tutup dengan tangan atau dengan hoodie jaket atau hoodie gendongan bayi. Aman sudah.

Kalau foto yang berikutnya adalah saat main di taman. Kalau diperhatikan di sisi kanan baju, ada seperti garis. Nah itulah akses menyusuinya. Bisa dibuka sampai dada, dan di dalamnya ada pelapis yang meminimalisasi tubuh Ibu terlihat dari luar. Di dalamnya Ibu tinggal menggunakan bra/ kamisol khusu menyusui yang ada kaitannya di depan, sehingga mudah dibuka tanpa harus melepas pakaian.

menyusui di taman

Saya punya juga baju menyusui yang couplean sama Gayatri lo, hihihi. Lucuuuk. Saya review di sini ya: Baju Menyusui Couple dengan Bayi.

2 . Bra Menyusui/ Kamisol Menyusui

Seperti baju menyusi, bra menyusui juga sudah familiar ya…. Banyak yang menjualnya. Jika Nyonyah masih penasaran, bisa googling saja di marketplace dengan keyword “bra menyusui”, pasti akan muncul banyak pilihan. Bra menyusui ini life saver banget buat saya (sepaket dengan baju menyusui) karena memudahkan saya menyusui di mana saja. Evenpun hanya di rumah, paketan baju dan bra menyusui ini menghindarkan saya dari masuk angin, kalau menyusui sampai ketiduran. Ada yang mengalami? Hehehe….

Namun kekurangan bra menyusui bagi saya adalah karena saya suka pakai tank top. Jadi akses menyusuinya tertutup tanktop. Awalnya demikian sampai saya menemukan kamisol bra menyusui di mooimom.id atau biasa disebut juga dengan bra top. Kamisolnya itu ya kaya tank top tapi ada busanya sebagai penopang payudara. Daaaannn…. saya baru banget tahu ada teknologi kamisol ini. Super exciteeeedd! Hihihi…. norak ya! Nama produknya sendiri adalah Seamless Maternity & Nursing Bra Top.

Just in case ada juga yang belum tahu seperti saya seperti apa kamisol atau bra top, aku share fotonya yak…. Sorry aku ga bisa sediakan foto yang pas aku pakai di badan. Soalnya saruuuuu…. :P

kamisol menyusui tampak depan

Detai kaitannya si seperti bra menyusui biasa seperti ini:

detail kancing kamisol menyusui

Busa penyelamat bangsa supaya gunungan tidak terlalu merusak moral ada di sini:

kamisol tampak busa

Saya mereview produk bra top/ kamisol lain (handfree pump tank) untuk ibu menyusui di artikel ini: dua jenis kamisol/ bra menyusui.

Saya seneng dengan model yang menutup perut seperti ini, soalnya lebih melindungi tubuh bagian bawah. Soalnya kalau kadang banyak bergerak titah-titah Gayatri kan sering menunduk dan kaus luar tersibak, kalau pakai kamisol kan tertutup, jadi punggung dan perut juga tidak terkespos.

3 . Apron/ Nursing Scarf

Aktivitas terkait menyusui paling ekstrim yang saya lakukan di tempat umum adalah pumping di bus! Tapi bus pariwisata si. Saat itu lagi acara outing dengan rekan-rekan kantor. Jadi sebelah saya temen kantor, sesama perempuan. Saya minta izin untuk menggunakan kursi yang mepet jendela, kemudian pumping dengan ditutupi jaket sebagai pengganti apron atau nursing scarf. Saya menggunakan jaket (dipasang terbalik) karena kebetulan nggak bawa apron/ nursing scarf. Lagipula saat itu malam hari, jadi ya tidak ada yang tau juga kalau saya sedang pumping. Kecuali rekan sebelah, tentu saja. :) Namun menggunakan jaket ada kekurangannya: berat dan melorot-melorot karena tidak ada cantelannya di leher.

Jujur awalnya saya kurang menyukai apron/ nursing scarf sebagai penutup dada saat menyusui Gayatri. Alasannya karena dulu apronnya malah digunakan sebagai mainan bocah. Hahahaha…. Malah mainan Cilukba! Kan malah riweuuuhhh….  Apalagi kalau bahannya bikin gerah. Bayi nggak bakal betah di dalamnya.

Untuk itu penting buat memastikan apron/ nursing scarf yang kita pilih itu 1) bahannya adem, 2) kemudian kalungan di lehernya juga nyaman buat ibu dan yang terakhir (preferensi saya) 3) saya suka apron yang menutup sampai belakang seperti yang saya punya di bawah ini. Supaya kalau nenenin, nggak ada yang ngintip dari belakang.

apron ibu menyusui hanamasa

Habis nyusuin Gayatri di tempat makan.

Nah, apron ini bermanfaat buat saya bukan hanya saat menyusui Gayatri. Namun saat pumping di kantor, tapi pas tidak di nursing room. Hehehe…. Soalnya kalau kerjaan lagi repot, pumping di ruangan akan lebih efisien. Toh kubikel saya ada di pojok dan lumayan terlindung. Jadi bisa pumping sambil mojoks dan ngetik. Hehehe….

Selain itu, apron juga bisa kita fungsikan untuk hal lain. Saya sering menjadikannya selimut Gayatri, terutama kalau dia bobok di luar rumah seperti di kantor sbb:

Gayatri bobo di kantor Ibuk

Gayatri bobo di kantor Ibuk

Apron di atas memenuhi 3 syarat apron favorit versi saya. Saya dapat dari mooimom.id (follow akun Ignya buat info diskon atau akun FBnya). Teman-teman yang sedang mempertimbangkan membeli apron bisa meluncur ke webnya deh. Banyak model apron yang beda-beda yang mungkin bisa jadi andalan para ibu menyusui. Kalau yang saya punya namanya Multi-Use Nursing Scarf.

Saya bersyukur karena kondisi sekarang, banyak instansi dan tempat keramaian yang sudah busui friendly dengan menyediakan banyak tempat menyusui yang nyaman. Namun apabila pun tidak ada, dengan tiga senjata tersebut saya tidak khawatir kegiatan menyusui akan mengganggu kenyamanan bersama. So, Ibu tidak perlu menahan diri lagi untuk menyusui di tempat umum ya. Karena menyusui, baik untuk ibu dan juga bayi. :)

Semoga sharing kali ini bermanfaat. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Pengalaman Membawa Bayi Naik Pesawat (Umur 9 Bulan)

Sebelumnya saya pernah menulis pengalaman saya membawa bayi naik pesawat pas bayi saya ber umur 4 bulan plus seorang lansia. Buat yang belum baca, mari cuss dulu ke sini ya, biar related.

Related Post: Pengalaman Membawa Bayi Usia 4 Bulan + Lansia

Nah dari 4 bulan s.d 9 bulan ini, Gayatri terbang sekitar 10 kali. Dari situ saya ngerasain perbedaan tantangan antara membawa bayi usia 4 bulan dan 9 bulan. Ngakalin tantangannya juga beda. Dikit sih, tapi beda! Hehehe….

bawa bayi naik pesawat

Bedanya:

  1. Bayi umur 4 bulan belum banyak gerak. Sementara Gayatri, anak saya, pas umur 9 bulan maunya dititah mulu kemana-mana. Evenpun di dalam pesawat. Jadi kalau dulu, bisa dipasangin infant seat belt. Sekarang enggak. Pakai gendongan kanguru pun dia sudah bisa muntir muntir, mau melarikan diri.
  2. Bayi umur 4 bulan kalau nangis, tinggal tancepin nenen, case closed. Sementara Gayatri, anak saya, pas umur 9 bulan kalau nangis kadang jerit-jerit naik 8 oktaf, ngalahin Mariah Carey falseto. Lalalalalalallllllaaaaaaaa….
  3. Bayi umur 4 bulan kalau pupup baunya masih bearable. Sementara bayi 9 bulan, omagaaaahhh, baunya uda bisa dikategorikan senjata biologis pemusnah masal.
  4. Bayi umur 4 bulan cuma butuh ASI, ASI dan ASI. Sementara bayi 9 bulan kan uda makan. Jadi bawaannya makin bikin Ibu berotot.
  5. Bayi umur 4 bulan kalau kepo cuma bisa merem melek, sementara Gayatri kemarin pas kepo tangannya uda bisa grepe-grepe seragam pramugari (dan sekali juga pramugara), kan bikin gengges….

hehehe

Pendapat diatas berdasarkan 10x penerbangan domestik-nya Gayatri ya. Mungkin kalau penerbangan internasional yang lama penerbangannya lebih panjang listnya bisa lebih panjang lagi. Hahaha…. Mari lanjut ke lesson learn yang saya dapat ya, semoga sharingnya bermanfaat untuk yang mau ajak bayi baru gede naik pesawat.

Memilih Maskapai Penerbangan

Maskapai yang pernah digunakan oleh saya bareng bayi: Garuda (2x), Citilink (3x), Air Asia (3x), Lion Air (1x), Sriwijaya (1x). Kalau ditanya mana maskapai favorit saya saat membawa bayi naik pesawat, ya tentu Garuda yak. Dengan catatan pas PROMOOOO, soalnya desseu mahaal! Tapi karena hal tersebut jarang terjadi, maka kalau saya harus memilih maskapai yang low budget, saya akan lebih memilih Air Asia. Dan kemudian Citilink.

Barang Bawaan

Wajib, kudu dan harus, memisahkan beberapa printilan bayi di tas terpisah yang mudah dijangkau. Jadi kalau bawaan banyak biasanya saya bawa tas punggung dan satu diaper bag. Kadang malah nggak bawa tas punggung, hanya bawa satu diaper bag saja. Barang-barang lain saya paketin via JNE ke lokasi tujuan. Biasanya barang yang saya bawa di diapers bag adalah sebagai berikut:

  1. Popok sekali pakai
  2. Tisu basah
  3. Baju ganti
  4. Botol minum
  5. Kotak makanan Gayatri
  6. Obat-obatan
  7. Teether
  8. Dompet isi tanda pengenal

barang bawaan

Yang perlu diperhatikan saat membawa diaper bag adalah ukuran dan diaper bag yang dipakai. Ukurannya harus cukup besar untuk bisa menampung printilan bayi yang lumayan banyak. Namun juga tidak terlalu besar untuk bisa masuk di kolong kursi penumpang pesawat.

Kemarin aku ukur pake tangan, kira-kira lebar punggung kursi penumpang itu dua kilan tanganku, which is perkiraan 40 cm, dikurangi ada kaki kursi, perkiraan lebar/ tebal  tas maksimal yang bisa masuk adalah sekitar 30 cm. Saya memasukkannya menyamping. Oiya satu lagi, saya suka yang banyak kompartemen, baik di dalam tas maupun di bagian saku. Kompartemen ini fungsinya agar barang di dalam tas lebih terorganisasi. Selain itu, kompartemen di saku juga berfungsi untuk menaruh tanda pengenal, dll, agar lebih mudah di raih.

diaper bag di nursing room

Foto di atas, adalah foto pas saya ngegantiin popok Gayatri di Terminal 2F Soekarno Hatta. Kebayang kan. Tangan kanan harus megang bocah yang udah lincah mau loncat dari meja tempat ganti popok. Sementara tangan kiri ngubek-ubek tas buat nyari popok, tisu, dll. Dengan kompartemen yang banyak dan rapih membuat semuanya dapat dilakukan dengan nyaman dan cepat.

Tas yang saya gunakan adalah Mooimom Lady Diaper Bag, saya buat reviewnya terpisah ya.

How About Stroller?

Saya pribadi belum pernah membawa stroller, karena Gayatri terbiasa tak gendong kemana mana tak gendong kemana mana. Namun, karena akhir tahun berencana family trip agak lama, ada rencana juga si bawa stroller. Jadi saya sempat nanya ke petugas check in Citilink. Stroller boleh dibawa sampai pas mau boarding. Pas mau boarding, stroller bisa diserahkan ke petugas untuk dimasukkan bagasi.

setrong

Persiapan Kesehatan

Kalau dulu pas bocah masih kicik banget, tiap bulan selalu kontrol ke dokter + imunisasi. Jadi kalau mau terbang biasanya bisa sekalian konsultasi dan periksa. Sekarang kan jeda kontrolnya bisa 3 bulan, jadi tidak selalu periksa dokter dulu.

Cuma kemarin pas Gayatri kaya mau flu, saya bela-belain ke dokter dulu untuk nanya apakah boleh naik pesawat atau engga. Saat itu Gayatri belum resmi flu si. Ga ada demam atau ingus yang kental. Cuma kadang suka ada kaya ingus super encer meler kalau di pagi hari. Walau begitu saya tetep worry. Soalnya takut memaksakan diri, dan efek perbedaan tekanan udara pas bocah pilek ga bagus ke pendengaran bocah. Saya yang orang dewasa aja pernah terbang pas pilek, dan telinga rasanya sakit banget.

Better worry than sorry, ye kan….

Setelah diperiksa dokter, dan dokter bilang saluran pernapasannya bersih. Kami cukup PD untuk berangkat. Cuma untuk persiapan kami bawa beberapa persenjataan just in case dia meler pas mau berangkat:

  1. Sterimar nassal cleanser
  2. Penyedot ingus
  3. Paracetamol
  4. Rhinos
  5. Termometer

Gunakan Pakaian yang Nyaman untuk Ibu

Untuk Ibu yang menyusui secara langsung saya sangat menyarankan banget pakai baju menyusui. Berdasarkan pengalaman saya dengan Gayatri, pakai apron di pesawat is no no banget lah. Udah ribet, kadang bocahnya juga malah ciluba-an pakai apron. Kalo uda jadi mainan, makin susah untuk ngontrol pabrik susu Ibu tetap aman terkendali.

Kalau pakai baju menyusui yang jaman sekarang tuh, yang kaya ada jendela di sisi kanan dan kiri, lebih praktis dan menurut saya juga lebih aman. Amannya relatif si, tetep ada kemungkinan terkekspos juga namun lebih terkontrol karena nggak dipakai mainan bocah. Untuk “perlindungan ekstra” saya biasanya dobelin pakai kamisol khusus menyusui juga. Kaya tank-top tapi sekalian jadi bra, jadi ga perlu pake bra lagi.

Berbeda dengan baju menyusui yang sudah populer, sepertinya kamisol ini belum terlalu hits yak. Kaya gini nih bentuknya:

kamisol menyusui tampak depan

Selain aman, juga nyaman, bahkan saya bisa menyusui Gayatri dalam posisi duduk di dalam gendongan kanguru. Tinggal ditutup pakai tudung jaket atau tudung dari gendongan kanguru, penumpang sebelah pun ga terganggu serta nggak bikin risih.

Beli kamisol dimana dan detail produknya saya tulis di: 3 Senjata Agar Nyaman Menyusui di Tempat Umum.

Gunakan Pakaian yang Nyaman untuk Bayi

Standar pakaian yang saya pakaikan Gayatri: Jaket berpenutup kepala, kaus, stoking tutup (yang sampai menutup telapak kaki), sepatu. Oiya satu lagi yang wajib adalah popok sekali pakai, demi kepraktisan. Biar ga perlu bolak balik ganti kalau pipis. Paling hebohnya cuma kalau pup. Hihihi….

Saya pernah pas hampir mau landing di Yogyakarta, Gayatri pupup. Masyaallah baunya. Mana landing di Yogyakarta tu kadang lama, pakai acara muter-muter di udara karena antrian yang panjang. Sebelah saya tu sampai tutup tutup hidung dan oles-oles freshcare untuk ngalahin baunya pupup Gayatri. Mau diganti juga uda ga bisa karena proses landing, penumpang ga diizinkan ke toilet. Jadi ya gitu deh…. Hahaha….

Syukurlah Gayatri pas itu ga cepirit ya. Kalau sampai cepirit di celana, wasallam dah. PR banget, soalnya saya pas solo travelling. Cuma sama Gayatri. Di situ saya mau sungkem sama Goo.N, merk diapersnya Gayatri hahaha. Life saver banget soalnya. Aman, ga tembus dan ga luber pas pupup. Nggak gembung juga kalau penuh, dan anaknya jadi tetep merasa nyaman dan bebas bergerak juga, walaupun perjalanan cukup lama.

bawa bayi naik pesawat 2

Selain diapers yang perlu diperhatikan adalah jaketnya. Saya jarang banget beli baju yang mahal buat Gayatri. Namun, buat jaket saya bela-belain yang agak mahal dikit. Soalnya jaket yang bagus itu, hangat pas suhu dingin, namun ga bikin gerah pas kita ada di luar ruangan. Secara kan bocah saya gendong terus…. Kadang panas bok, kalau pake jaket yang nggak sip. Pilih juga jaket yang ada hoodienya, biar tidak perlu pakai tutup kepala lagi, seperti foto Gayatri di atas.

Apa lagi ya? Hehehe…. yang punya tips bisa juga tinggalkan tipsnya di komen ya. Untuk tips supaya bocah tidak rewel di atas pesawat aku tulis di artikel yang berbeda. Soalnya ini uda puanjuaaaanggggg…. :)

Terimakasih sudah mampir. Semoga sharing kali ini bermanfaat. Salam sayaanggg! :)

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share