Punya Anak Kedua? Pertimbangan dan Harapan

punya anak kedua

Saat saya mengupload informasi kehamilan anak kedua, banyak sekali yang memberi selamat. Terimakasih banyak ya teman-teman. Saya terharu, hehehe. Di sela-sela ucapan selamat, ada beberapa teman yang menanyakan alasan atau menanyakan pertimbangan mengapa kami ingin punya anak kedua.

Sejujurnya kalau ditanya demikian, agak bingung juga menjelaskannya dalam bentuk tulisan ya. Hehehe. Soalnya kami berdua memang nggak punya semacam list pertimbangan atau kaya “10 alasan mempunyai anak kedua” gitu lo. Keputusannya diambil bukan serta merta hasil sekali diskusi, langsung jadi “Yuk, punya anak lagi”, nggak gitu! Tapi proses dari sejak awal menikah, punya anak pertama, lalu anak pertama kali sudah tiga tahun, obrolannya terus berkembang. Sampai kemudian memutuskan untuk lepas IUD. Saya coba rangkuma aja tapi ya…. :)

Btw, ngomongin “keputusan punya anak” nggak sama kaya “keputusan beli rumah”. Soalnya banyak variabel, yang tidak bisa manusia tentukan sendiri. Terjadinya pembuahan sel sperma dengan sel telur kan benar-benar di luar kemampuan kami sebagai orang tua ya. Sepenuhnya pasrah kepada Tuhan semata. Keputusan yang menurut kami sepenuhnya ada dalam kendali kami ya: kapan melepas alat kontrasepsi. Punya anak atau tidak punya anak, menurut saya benar-benar adalah kuasa Tuhan semata.

Wong, walaupun alat kontrasepsi masih terpasang pun, kalau Tuhan berkehendak kami punya anak, ya bisa terjadi kan ya.

Keinginan Punya Anak

Kalau diurut-urut, kami berdua sejak mula pernikahan, memang punya harapan untuk punya keluarga yang tidak kecil. Untuk jumlah anak sendiri, kami belum memutuskan berapa. Tapi dalam angan-angan kami tu seneng gitu membayangkan ada beberapa anak dalam keluarga yang rukun.

Hal itu dulu mungkin ya yang harus dibicarakan antara suami istri di awal. Keinginan atau harapan masing-masing pasangan seperti apa. “Mau nggak punya anak?

Dan yang perlu diingat, keinginan untuk punya anak, memang sangat personal ya. Susah juga untuk dikejar alasannya apa. Karena menurut saya, pasti banyak hal yang mempengaruhi. Seperti latar belakang keluarga, pengalaman hidup orang, atau mungkin value/ pandangan seseorang terhadap kehidupan dan dunia juga bisa mempengaruhi keinginan ini.

Saya rasa, setiap orang harus menghargai keinginan orang lain (yang menjalani) terkait hal ini ya. Termasuk juga keinginan pasangan. Tidak ada yang benar atau salah. Karena sifatnya sangat subyektif. Jadi kalaupun pendapat atau keinginan pasangan (baik suami maupun istri) terdengar aneh, ataupun tidak masuk akal bagi kita, ya harus dipertimbangkan.

Kan bikinnya bareng-bareng, anak bareng-bareng juga. Keputusan ga boleh memaksakan kehendak satu belah pihak saja.

Konsekuensi Punya Anak

Buat kami, keputusan untuk punya anak kedua adalah keputusan yang sangat besar. Jadi walaupun sebenarnya kami excited banget buat punya keluarga besar, kami nggak hanya mendasarkannya pada keinginan semata. Sebagai manusia yang bertanggungjawab, kita juga harus memikirkan konsekuensi yang timbul dari memiliki anak.

1 . Sumber Daya Keluarga yang Terbatas

Menambah satu anggota keluarga, berarti sumber daya keluarga yang tadinya digunakan untuk tiga orang, menjadi digunakan empat orang. Hal ini tidak hanya ngomongin tentang masalah keuangan ya, tapi juga tentang waktu, tentang perhatian satu dengan yang lain, tentang tenaga, tentang pikiran, dll.

Punya anak satu aja kadang ngos-ngosan ya energinya??? Hihihi…. Hayuuuk ngaku siapa yang jiper punya anak kedua, karena ngurus anak pertama aja capek? Realistis aja, ngurus anak tu capek jiwa raga, Komandaaan! I feel you!

Oke, katakanlah kita tetep pengen punya anak lagi. Oke, kita senang hidup di dalam keluarga yang rame. Tapi MAU NGGAK menerima konsekuensi untuk berbagi hidup kita lagi? Mau nggak, kita menanggung konsekuensi untuk kasih effort lebih sebagai orang tua.

2 . Beban Masa Depan Anak

Seperti dua sisi mata uang ya. Di satu sisi, anak itu berkah, anak itu anugerah. Di sisi lain anak itu tanggung jawab. Tanggung jawab orang tua memenuhi hak anak sampai anak itu nantinya siap membangun masa depannya sendiri, itu berat kalau di mata saya.

Walaupun, saya percaya kalau Tuhan percayakan, pasti Tuhan mampukan. Pertanyaannya, MAU NGGAK kitanya nanggung konsekuensi itu?

Suami saya si bilang “MAU”, kenceng banget. Hehehe, sayanya yang emang rada phragmatis bilang “Mau, tapi diatur atur dulu ya.” Hehehe…. Kalau temen-temen enggak mau, yauda menurut saya gapapa, kan ga ada yang maksa juga. Kita uda dewasa woy.

Baca Juga: Pengalaman Menggunakan KB IUD

punya anak kedua

Pertimbangan Punya Anak Kedua

Karena dua hal tadi, di kami uda terjawab iya, “Iya pengen punya anak” dan “Mau menerima konsekuensi punya anak tapi dengan pengaturan” maka kami lanjut tu mempertimbangkan hal-hal yang lebih teknis terkait mengatur jarak kehamilan.

1 . Kesiapan Ibu

Setelah melahirkan pertama, dulu kami memang langsung konsul untuk merencanakan kehamilan berikutnya. Kalau anjuran Dokter Kandungan saya, disarankan untuk memberi jarak setidaknya dua tahun dari persalinan pertama. Selain untuk memberi waktu memberikan ASI, juga untuk memulihkan kondisi ibu. Saya kurang tahu ini berlaku umum atau khususon saran untuk kesehatan saya ya. Tapi alasan di atas makes sense si.

Selain kesiapan kesehatan fisik, kesehatan mental juga harus dipersiapkan ya. Masing-masing orang beda-beda menyiapkan mentalnya ya…. Terutama mungkin yang punya trauma atau kejadian tidak menyenangkan di kehamilan atau persalinan yang pertama, perjuangan persiapannya kudu lebih semangat!

2 . Kesiapan Anak Pertama

Selain ayah dan ibu, kami menanyai juga Anak Pertama kami tentang mau nggak punya adik. Sounding tentang hal ini kami mulai dari usianya 2 tahun, dan dia baru oke pas umur 3 tahun. Hehehe, lama juga ya…. Keuntungan mengatur jarak kehamilan memang jadi punya kesempatan untuk diskusi dengan anak.

3 . Kesiapan Ayah

Saya pernah googling dengan keyword “ayah mengalami baby blues” dan ternyata banyak juga ya pengalaman para ayah yang merasakan baby blues saat punya anak. Oleh karena itu, kesiapan ayah juga jangan diabaikan yak.

4 . Kondisi Keuangan

Ada pepatah, “banyak anak, banyak rejeki”. Ada juga yang berpendapat, ” Tuhan pasti akan menyediakan rejeki tepat pada waktunya.” Kami memahaminya si gini, rejeki si Anak tu nggak cuma “akan disediakan” tapi bisa jadi “telah disediakan”. Yang pasti yang “telah disediakan” Tuhan ya akal budinya orang tua ya.

Dengan akal budi itu, orang tua bisa mengatur keuangannya sedari dini. Jadi kalau ada yang bilang, duh ribet banget si ngatur uang, kaya nggak punya iman. Loh, malah enggak si kalau menurut kami. Mengelola uang sebagai rejeki yang sudah Tuhan percayakan juga bentuk iman sik.

Bukan berarti keuangan orang tua harus perfect dulu ya, baru boleh merencanakan punya anak kedua. Tapi kami berdua, dulu mengusahakan setidaknya keuangan kami dalam kondisi yang relatif sehat. Kriteria saat itu yang kami buat untuk kami antara lain:

  • punya penghasilan,
  • ada dana darurat,
  • ada asuransi jiwa untuk Bapak (pencari nafkah),
  • ada asuransi kesehatan setidaknya BPJS untuk Ibu,
  • cicilan hutang tidak lebih dari 30%.

Sambil jalan, kami mulai menabung untuk persiapan persalinan.

Setelah keempat hal ini kami rasa relatif aman, kami memutuskan untuk melepas KB IUD. Dari yang awalnya direncanakan lepas IUD di usia Gayatri 2 tahun, ternyata mundur sampai 3 tahun. Karena nungguin Gayatrinya “mau punya adek”. Hehehe….

Baca Juga: Menjadi Orang Tua yang Yakin pada Keputusan

Kalau ditanya, setelah ini mau anak ketiga ga? Kemungkinan si baru akan kami jawab nanti setelah punya anak kedua lahir plus dua tahun. Lihat-lihat kondisi lagi, kita evaluasi lagi pertimbangan-pertimbangan di atas, baru memutuskan untuk anak ketiga.

Santai aja, nggak perlu kemrungsung…. Perjalanan ini masih panjang, Teman-temaaaan! Ga perlu buru-buru memutuskan sesuatu yang besar tanggung jawabnya, tapi jangan juga mendasari keputusan hanya karena pendapat orang lain atau ketakutan diri sendiri. :) Jangan lupa bahagiaaaa!!!!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

KB IUD, Pengalaman Pertimbangan dan Biayanya

Hehehe, kebanyakan pertanyaan dari teman saat tahu saya pakai KB IUD adalah, “Pasangnya sakit tidak?” Tapi jujur pertanyaan yang sama juga saya ajukan pada SPOG saya tiga tahun tiga bulan yang lalu (asek, apal). Bayangannya horor aja si bagian rahim dimasuki sesuatu walaupun kecil.

Jawabannya, kalau berdasar pengalaman saya si tidak sakit! Tapi ya tidak menutup kemungkinan kalau temen-temen bakal sakit ya. Bukannya nakut-nakutin hihihi…. Soalnya kan tingkat ketahanan terhadap rasa sakit orang bisa beda-beda. Saya sendiri beneran nggak merasakan sakit pas pasang.

Kapan Pasang KB IUD

Saya pasang KB IUD ketika nifas, setelah persalinan Gayatri. Kalau tidak salah itu, sekitar sebulan setelah melahirkan ya. Awalnya datang selain untuk kontrol, juga untuk minta KB suntik. Tapi setelah konsultasi dengan dokter kandungan langganan saya di BWCC, kami ga jadi ambil suntik KB. Akhirnya beberapa hari kemudian kami balik lagi untuk pasang KB IUD.

Dokter kandungan saya memang menyarankan untuk pasang KB IUD saat masih nifas paska persalinan atau saat kondisi menstruasi ya. Alasannya supaya tidak terasa sakit. Hehehe, iya, jadi pas masih berdarah gitu (((maap dijelasin))). Tapi dokternya sendiri si yang menyarankan demikian.

Jenis KB (alat kontrasepsi) lain yang Dipertimbangkan

  1. Kondom
  2. KB Suntik
  3. KB Pil
  4. Implan (yang di lengan)
  5. IUD hormonal (kami memilih KB IUD non-hormonal)

Jenis IUD yang Dipilih

Kami memilih KB IUD non hormonal. Oiya KB IUD sendiri juga sering disebut dengan KB Spiral ya kalau tidak salah. Jenis IUD sendiri yang disediakan oleh klinik BWCC, tempat saya pasang IUD ada dua. Yang pertama IUD hormonal atau juga sering dikenal dengan IUD Mirena. Dan yang kedua IUD non-hormonal atau IUD tembaga atau juga disebut dengan IUD Nova-T.

Sebagaimana namanya, intra uterine device (IUD), keduanya sama-sama di pasang di dalam rahim. Hanya perbedaannya ada di penggunaan hormon di dalam alat IUD yang berbentuk T.

Kenapa kok ga jadi KB suntik lalu memilih IUD?

Sebenernya alasan utamanya demi kepraktisan saja. Kalau IUD kan sekali pakai bisa sampai lima tahun lebih. Kami rasa ini cocok untuk saya yang sering lupaan hehehe. Daripada KB suntik yang saya harus disiplin beberapa waktu sekali datang ke klinik untuk suntik.

Kenapa kok memilih KB Non-hormonal dibandingkan IUD Hormonal atau KB hormonal lainnya?

Tentu saja ini hasil konsultasi dengan dokter kandungan ya. Saya dan suami sebenarnya nggak ingin terlalu lama menunda kehamilan berikutnya, antara 2-3 tahun saja untuk memulihkan kondisi kesehatan saya terutama sebagai ibu.

Maka dari itu, kami prefer menggunakan yang non hormonal, karena disampaikan dokter, kalau “masa pemulihan” kesuburan dari penggunaan IUD non-hormonal itu tidak makan waktu. Jadi setelah dilepas, sudah bisa terjadi pembuahan lagi, karena tidak perlu penyesuaian hormon lagi. CMIIW ya, saya bukan tenaga kesehatan, mungkin ada kesalahan pemahaman dari penjelasan dokter, tapi hal ini lah yang menjadi alasan kami saat itu.

Dan memang terbukti ya. Di pertengahan Januari 2020 saya melepas IUD, Puji Tuhan, awal Februari 2020 saya sudah positif hamil.

Selain IUD non-hormonal, sebenarnya ada pilihan untuk menggunakan kondom untuk alasan yang sama. Namun, kami tidak memilih alat kontrasepsi ini karena baik saya maupun suami merasa tidak nyaman saat menggunakannya.

Pasang IUD dan Pelepasannya

Pemasangan dan pelepasan IUD, kedua proses ini harus dilakukan oleh dokter atau bidan. Saya melakukan pasang IUD di BWCC Bintaro di tahun 2017 dan pelepasan di RS Mitra Keluarga Bintaro di tahun 2020. Keduanya oleh dr. Agriana, SPOG.

Proses Pasang IUD

Yang saya ingat, posisi saya saat pasang IUD itu seperti posisi ketika akan periksa dalam (saat mau melahirkan). Dokter memasang cocor bebek dan kemudian memasang IUDnya dengan dibantu alat seperti pinset apa sumpit gitu ya. Saya nggak bisa melihat dengan jelas, soalnya di bawah. Lagipula kemudian saya merem karena takut, wkwkwk….

Takut yang nggak beralasan, karena ternyata e ternyata kagak sakit cuy. -.-“

Proses pemasangan tidak lama, kayanya nggak sampai 10 menit deh. Itupun 10 menit uda termasuk, saya dipanggil panggil karena kelamaan merem. Setelah itu saya melakukan USG untuk dicek posisi IUDnya di dalam rahim sudah tepat atau belum.

Harga IUD Nova T dan Biaya Pasang IUD

Seingat saya (saya nyari notanya ga tahu kemana) harga IUD Nova T-nya sekitar Rp 400.000,00 an saat itu. Belum dengan biaya dokter dan biaya pemasangannya. Dengan biaya-biaya tersebut ditambah USG, dll, kurang lebih Rp 800.000,00 an ya di klinik BWCC. Itu di 2017 ya….

Baca Juga: Review Bintaro Women and Children Center (BWCC) Bintaro

Proses Lepas IUD

Setelah 3 tahunan, saya lepas KB IUD saya di tahun 2020. Berbeda dengan tempat pasangnya, saya lepas IUD di RS Mitra Keluarga Bintaro.

Prosesnya mirip-mirip dengan pemasangannya. Posisi saya seperti posisi bukaan dalam, kemudian dipasangi cocor bebek. Hanya saja proses pelepasan IUD lebih lama sedikit dibandingkan dengan pemasangan. Sepertinya karena sempat ganti ukuran cocor bebek.

Tapi sama-sama tidak sakit kok! Nggak usah ngilu bayanginnya! Hahaha….

Biaya Lepas IUD

Nahini kebetulan saya masih simpan foto notanya. Biaya total lepas IUD (dari administrasi, dokter, biaya tindakan, USG, dll) di RS Mitra Keluarga Bintaro adalah Rp 865.000,00. Bisa dilihat di gambar dibawah ini ya….

Sepertinya si, besaran biaya ini sangat tergantung dengan apa saja yang dilakukan saat kontrol ya. Mungkin kalau tidak diperlukan USG, dll, bisa menekan biaya jadi lebih murah. Atau di tempat lain, biaya dokter dan tindakannya bisa jadi lebih murah dibandingkan dua tempat di atas. Teman-teman yang punya pengalaman atau rekomendasi tempat lain bisa tinggalkan pesan di Komen yaaa!!! Pasti bermanfaat buat teman yang lain.

Keluhan yang Dialami saat Menggunakan IUD

Karena saat pasang IUD saya sedang nifas, jadi saya tidak tahu apakah saya mengalami pendarahan paska pemasangan atau tidak. Namun setelah nifas selesai, saya beberapa kali mengalami flek. Fleknya sangat sedikit si. Biasanya terjadi setelah saya berhubungan badan.

Keluhan tentang flek ini menghilang setelah satu dua bulanan. Di bulan ketiga pemakaian IUD, saya sudah hampir tidak pernah mengalami flek lagi.

Paska pelepasan IUD dalam dua tiga hari pertama saya juga mengalami flek. Jauh lebih sedikit dan lebih tipis dibandingkan dengan flek yang terjadi di bulan-bulan awal pemasangan. Namun, saya sudah bisa beraktivitas dengan normal bahkan beberapa saat setelah proses melepas IUD.

Kontrol KB IUD

Setelah pasang IUD, saya disarankan untuk kontrol satu bulan setelah pemasangan, atau bisa lebih cepat apabila dirasa tidak nyaman (baik bagi saya maupun suami). Kalau tidak nyaman bisa dilakukan penyesuaian di IUDnya. Untunglah saya saat itu langsung oke oke aja. Malas juga kan kalau sampai bongkar pasang, hehehe….

Satu bulan setelah pemasangan, kontrol untuk melihat posisi IUD apakah ada pergeseran atau tidak dengan USG. Saya melakukan kontrol ini sekalian pas kontrol paska nifas.

Setelah itu, dianjurkan untuk kontrol satu tahun sekali untuk cek posisi IUD. Sama seperti sebelumnya cek di tahun berikutnya dilakukan dengan USG. Teman-teman bisa sekalian melakukannya bareng saat papsmear ya. Jadi biaya dokter dan pendaftarannya bisa sekalian jadi satu hihihi…. Saya sendiri belum papsmear ni.

Baca Juga: Periksa Kehamilan di RSIA Kendangsari Surabaya

Oiya, menurut saya pemilihan kontrasepsi ini cocok-cocokan ya. Masing-masing pasangan punya preferensi masing-masing. Di keluarga saya, IUD termasuk yang banyak digunakan. Walaupun ada satu saudara yang tidak cocok pakai IUD (mengalami pendarahan terus menerus setelah pemakaian IUD).

Untuk itu saya rasa keterbukaan ke dokter kandungan atau bidan sangat penting. Sehingga antara istri, suami dan juga tenaga kesehatan bisa berdiskusi dan memilih alat kontrasepsi mana yang paling tepat. Jangan disepelekan, karena hal ini sangat erat kaitannya dengan kesehatan ibu ya!

Semoga sharing pengalaman ini bermanfaat! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share