Perkiraan Biaya Persalinan di Surabaya (Survey ke 4 Lokasi)

biaya persalinan

Halo hai Nyaaah, memasuki trimester 3 beberapa minggu lalu (sebenernya sejak TM2 juga uda nyari info si), saya mengumpulkan informasi biaya persalinan di Surabaya, baik itu biaya persalinan normal maupun biaya operasi caesar. Awalnya memang kami hanya fokus ke nominal perkiraan biaya persalinan di RSIA Kendangsari Surabaya saja, tempat saya biasa kontrol kehamilan.

Namun, berhubung ada beberapa kendala untuk ngepasin jadwal kontrol SPOG langganan dengan jadwal pekerjaan suami, maka mulai kepikiran untuk nyari tempat kontrol dan persalinan lainnya. Apalagi, kebetulan teman kantor suami, istrinya baru melahirkan juga. Jadi ada beberapa insight baru yang kami dapatkan seputar proses persalinan di masa pandemi Covid-19 ini.

Selain gambaran persalinan saat pandemi, kami juga jadi dapat info tentang biaya operasi caesar menggunakan BPJS dan juga bagaimana layanan persalinan caesar di Surabaya. Karena hal-hal tersebut, kami jadi mulai hunting info tentang RS lain yang melayani BPJS tapi bukan RS rujukan Covid.

biaya persalinan

Hasil cari-cari infonya saya tulis di bawah ini ya.

Disclaimer: Inf di bawah ini berupa perkiraan saja ya, bukan harga paket fix. Besarannya berdasarkan flyer yang kami kumpulkan dari Customer Service RS terkait.

1 . Perkiraan Biaya Persalinan di RSIA Kendangsari Surabaya

Bisa dibilang kalau kita googling tentang tempat bersalin favorit di Surabaya, sepertinya RSIA Kendangsari ini akan muncul sebagai salah satu RSIA yang dipuji puji ibu-ibu ya. Dari sisi SDM, pro RUM, pro ASI, dan fasilitasnya (kecuali tempar parkirnya, hehehe).

Saya setuju si, memang sejak kontrol pun kami naksir. Tapi ya nggak ada salahnya tetap mencari alternatif.

Baca Juga: Pengalaman Periksa Kehamilan di RSIA Kendangsari saat Pandemi Corona

Berikut adalah rincian PERKIRAAN harga pelayanan persalinan di RSIA Kendangsari.

perkiraan biaya persalinan RSIA kendangsari
biaya persalinan normal biaya operasi caesar RSIA kendangsari

Flyer ini mulai berlaku per 1 November 2015. Kami sempat meminta flyer untuk tahun ini, namun info dari Customer Service, flyer ini adalah flyer yang paling terbaru.

Dari flyer di atas bisa diketahui kalau jenis kamar yang dimiliki oleg RSIA Kendangsari paling terjangkau adalah kamar yang diisi oleh 4 orang, kemudian yang paling mahal adalahh VVIP Blue.

Range biayanya bisa dilihat pada tabel di atas ya. Perlu diingat bahwa nominal yang tercantum dalam satuan ribu, dan merupakan harga perkiraan, BUKAN harga paket.

Untuk keterangan lebih lanjut teman-teman bisa menghubungi pihak RSIA Kendangsari ya. Customer Servicenya bisa dihubungi via WA di nomor +62 822-5725-1113.

Lokasi RSIA Kendangsari

Lokasi RSIA Kendangsari adalah di Jalan Raya Kendangsari Nomor 38, Surabaya. Mapnya sebagai berikut yaaaa:

Oiya, RSIA Kendangsari tidak melayani pasien BPJS ya.

2 . Perkiraan Biaya Persalinan di RS Pura Raharja

RS Pura Raharja adalah RS Tipe C (RS Rujukan atau faskes 2 BPJS), RS ini melayani rujukan untuk persalinan yang ditanggung BPJS. Biasanya untuk persalinan normal tanpa penyulit dan sifatnya tidak darurat tetap dilakukan di faskes 1 nya ya, kecuali dengan biaya mandiri.

Sebenarnya lokasinya agak jauh dengan tempat tinggal kami, tapi kami ke sini karena rekomendasi teman. Daaaaaan fun factnya, ternyata RS ini adalah tempat lahir kakak pertama suami saya. Hihihi….

Awalnya sempat jiper juga. Waduh, RS lama ini berarti. Tapi setelah datang, sepertinya RSnya sudah direnovasi besar-besaran kali ya, soalnya nggak ada rasa-rasa gedung lama yang saya rasakan si. Tempatnya terkesan bersih dan cukup baru.

Oiya kalau dari segi ukuran, menurut saya RS ini bukan RS yang besar ya. malah mirip seperti RSIA Kendangsari gitu. Bukan seperti RSU yang banyak gedung dan bangsal.

persalinan RS pura raharja
biaya rawat inap RS pura raharja

Rincian perkiraan biaya persalinan baik normal maupun biaya operasi caesar bisa dilihat di bawah ini ya….

biaya persalinan normal biaya operasi caesar di surabaya

Kalau berencana menggunakan BPJS, ada beberapa dokumen yang diminta dipersiapkan. Info dari Customer Service sbb:

  • Fotocopy KTP Suami
  • Fotocopy KTP Istri
  • Fotocopy Surat Rujukan dari faskes 1 sebanyak 2 lembar
  • Fotocopy Surat Nikah

Lokasi RS Pura Raharja

Alamat RS Pura Raharja adalah di Jalan Pucang Adi Nomor 12 – 14, Surabaya. Telepon 031-5019898 atau WA di +62 877-0302-2301. Mapnya sebagai berikut:

Awalnya saya sempat agak ragu ya, tapi setelah datang saya jatuh hati si. Memang belum bisa cerita banyak tentang layanan persalinannya. Namun layanan administrasinya ramah, susternya yang cek kondisi agak jutek dikit (hihihi, kayanya gara-gara sama-sama pakai masker jadi sempat miskom dikit) tapi teliti banget. Daaaaan, semua yang ditanyakan suster tadi semuanya dicatat dengan baik, dan pas periksa semuanya difollowup sama dokter.

Kan ada tu, di layanan kesehatan lain, hal-hal yang uda ditanyain suster, eh ditanya lagi ama suster lain, trus ditanya lagi sama dokter gt. Berkali-kali. Kalau kemarin enggak. Jadi menurutku sistemnya efisien ya. Catetan medis pasiennya beneran diperhatikan. Nilai plus si buat bumil kaya saya, yang ngos-ngosan jawabin pertanyaan sambil pakai masker. Hihihi….

Lalu yang paling penting, SPOGnya komunikatif dan antrinya ga pakai lama. Saya pas itu sengaja milih SPOG perempuan dan satu-satunya SPOG perempuan di RS Pura Raharja adalah dr. Uning Marlina, MHSM, Sp.OG.

dr. Uning juga praktik di MERR ya, terjangkau dari tempat tinggal saya. Hal ini jadi nilai tambah lagi, karena saya punya alternatif yang lebih banyak pilihan waktu kontrol yang lebih fleksibel, mengingat harus menyesuaikan dengan jadwal dengan suami.

WHY oh WHY harus kontrol nungguin jadwal suami? Karena kan saya punya anak ni, anak saya under 12 yo. Jadi kagak boleh ikut ke baik RSIA Kendangsari sama RS Pura Raharja selama masa pandemi ini (protokol RS secara umum). Dan ga mungkin juga saya tinggal sendirian di rumah. Gituuuuu….

3 . Perkiraan Biaya Persalinan di RSIA Perdana Medica

Satu RS lagi yang kami punya flyer persiapan harganya adalah RSIA Perdana Medica. RSIA ini menerima BPJS juga, faskes 2 ya. Alasan kenapa kok survey juga ke RSIA ini murni karena kedekatan lokasi dengan tempat tinggal kami.

Namun, pilihan RSIA Perdana Medica langsung kami coret dari list karena saat suami datang ke sana, di sana tidak memiliki SPOG perempuan. Semuanya laki-laki. Hehehe….

Jadi saya nggak sempat kontrol atau datang sama sekali, baru suami aja yang ke sana dan ambil flyer rincian biaya trus udah, langsung diputuskan nggak nyoba kontrol ke situ. Jadi bukan karena jelek atau gimana-gimana ya teman-teman. Tapi murni personal preferences untuk punya SPOG perempuan aja.

Berkut adalah foto flyer yang berisi layanan dan tarif persalinan di RSIA Perdana Medica:

biaya rawat inap RSIA Perdana Medica
biaya melahirkan di RSIA Perdana Medica

Lokasi RSIA Perdana Medica

Alamat RSIA Perdana Medica adalah di Jl. Kutisari No.6, Siwalankerto, Kec. Wonocolo, Surabaya. Mapsnya sebagai berikut:

4 . Pengalaman Kontrol di Klinik SIER Rungkut Industri

Sebenarnya di part 4 ini, saya nggak punya rincian perkiraan biaya persalinan di Klinik SIER. Klinik SIER ini adalah faskes 1 BPJS saya. Sengaja saya memilih pindah ke faskes ini saat pandemi COVID-19 adalah karena untuk menghindari banyaknya interaksi dengan pasien lain.

Kalau dibandingkan faskes 1 lain yang dekat tempat tinggal, Klinik ini bisa dibilang cukup sepi. Karena sebenarnya bukan fasilitas umum melainkan fasilitas perusahaan di are Rungkut Industri gitu. Jadi lokasinya pun rada masuk-masuk di komplek kantor ya. Hanya dia juga melayani masyarakat umum.

Lokasi Klinik SIER

Oiya alamat Klinik SIER itu di Jalan Rungkut Industri Raya No.10, Tenggilis Mejoyo, Rungkut Tengah. Mapnya sbb:

Di Klinik SIER ada layanan periksa kehamilan dengan Bidan on call. Untuk membuat janji, kita harus telepon dulu ke adminnya Klinik SIER di nomor (031) 8479095. Kalau bidan nggak di tempat nanti kita diminta WA.

Kalau di faskes 1 biasanya, persalinan dilakukan di Puskesmas atau fasilitas faskes 1 tersebut. Berbeda dengan di Klinik SIER, karena di Klinik SIER tidak ada fasilitas untuk persalinan, maka untuk persalinannya kalau normal dan tanpa penyulit akan dilakukan di tempat Bidan yang ditunjuk (kemarin infonya di Bidan Yevi, Rungkut).

Di Klinik ini saya kontrol sekali, kemudian diberi rujukan untuk USG di faskes 2. Saya si berharapnya bisa dapat di Pura Raharja ya, karena kemungkinan rencana persalinan mau di sana. Jadi kan kalaupun amit-amit harus ada tindakan karena ada penyulit, sudah ada link antara faskes 1 saya di Klinik SIER dengan faskes 2 di Pura Raharja.

Jadi memang tujuannya ke Klinik SIER itu murni berjaga-jaga aja dan mempelajari prosedurnya bagaimana, terutama saat pandemi ini. Harapannya si tetap pengen persalinan normal ya seperti persalinan sebelumnya. :) Supaya bisa cepat pemulihan. Aamiin….

Cerita lebih lanjut tentang proses persalinan dan juga rincian biaya persalinan riilnya, mungkin baru bisa saya jabarin nanti kalau sudah lahiran ya, Oktober nanti…. Doain lancar-lancar yaaa….. Salam sayaaaaanng!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Punya Anak Kedua? Pertimbangan dan Harapan

punya anak kedua

Saat saya mengupload informasi kehamilan anak kedua, banyak sekali yang memberi selamat. Terimakasih banyak ya teman-teman. Saya terharu, hehehe. Di sela-sela ucapan selamat, ada beberapa teman yang menanyakan alasan atau menanyakan pertimbangan mengapa kami ingin punya anak kedua.

Sejujurnya kalau ditanya demikian, agak bingung juga menjelaskannya dalam bentuk tulisan ya. Hehehe. Soalnya kami berdua memang nggak punya semacam list pertimbangan atau kaya “10 alasan mempunyai anak kedua” gitu lo. Keputusannya diambil bukan serta merta hasil sekali diskusi, langsung jadi “Yuk, punya anak lagi”, nggak gitu! Tapi proses dari sejak awal menikah, punya anak pertama, lalu anak pertama kali sudah tiga tahun, obrolannya terus berkembang. Sampai kemudian memutuskan untuk lepas IUD. Saya coba rangkuma aja tapi ya…. :)

Btw, ngomongin “keputusan punya anak” nggak sama kaya “keputusan beli rumah”. Soalnya banyak variabel, yang tidak bisa manusia tentukan sendiri. Terjadinya pembuahan sel sperma dengan sel telur kan benar-benar di luar kemampuan kami sebagai orang tua ya. Sepenuhnya pasrah kepada Tuhan semata. Keputusan yang menurut kami sepenuhnya ada dalam kendali kami ya: kapan melepas alat kontrasepsi. Punya anak atau tidak punya anak, menurut saya benar-benar adalah kuasa Tuhan semata.

Wong, walaupun alat kontrasepsi masih terpasang pun, kalau Tuhan berkehendak kami punya anak, ya bisa terjadi kan ya.

Keinginan Punya Anak

Kalau diurut-urut, kami berdua sejak mula pernikahan, memang punya harapan untuk punya keluarga yang tidak kecil. Untuk jumlah anak sendiri, kami belum memutuskan berapa. Tapi dalam angan-angan kami tu seneng gitu membayangkan ada beberapa anak dalam keluarga yang rukun.

Hal itu dulu mungkin ya yang harus dibicarakan antara suami istri di awal. Keinginan atau harapan masing-masing pasangan seperti apa. “Mau nggak punya anak?

Dan yang perlu diingat, keinginan untuk punya anak, memang sangat personal ya. Susah juga untuk dikejar alasannya apa. Karena menurut saya, pasti banyak hal yang mempengaruhi. Seperti latar belakang keluarga, pengalaman hidup orang, atau mungkin value/ pandangan seseorang terhadap kehidupan dan dunia juga bisa mempengaruhi keinginan ini.

Saya rasa, setiap orang harus menghargai keinginan orang lain (yang menjalani) terkait hal ini ya. Termasuk juga keinginan pasangan. Tidak ada yang benar atau salah. Karena sifatnya sangat subyektif. Jadi kalaupun pendapat atau keinginan pasangan (baik suami maupun istri) terdengar aneh, ataupun tidak masuk akal bagi kita, ya harus dipertimbangkan.

Kan bikinnya bareng-bareng, anak bareng-bareng juga. Keputusan ga boleh memaksakan kehendak satu belah pihak saja.

Konsekuensi Punya Anak

Buat kami, keputusan untuk punya anak kedua adalah keputusan yang sangat besar. Jadi walaupun sebenarnya kami excited banget buat punya keluarga besar, kami nggak hanya mendasarkannya pada keinginan semata. Sebagai manusia yang bertanggungjawab, kita juga harus memikirkan konsekuensi yang timbul dari memiliki anak.

1 . Sumber Daya Keluarga yang Terbatas

Menambah satu anggota keluarga, berarti sumber daya keluarga yang tadinya digunakan untuk tiga orang, menjadi digunakan empat orang. Hal ini tidak hanya ngomongin tentang masalah keuangan ya, tapi juga tentang waktu, tentang perhatian satu dengan yang lain, tentang tenaga, tentang pikiran, dll.

Punya anak satu aja kadang ngos-ngosan ya energinya??? Hihihi…. Hayuuuk ngaku siapa yang jiper punya anak kedua, karena ngurus anak pertama aja capek? Realistis aja, ngurus anak tu capek jiwa raga, Komandaaan! I feel you!

Oke, katakanlah kita tetep pengen punya anak lagi. Oke, kita senang hidup di dalam keluarga yang rame. Tapi MAU NGGAK menerima konsekuensi untuk berbagi hidup kita lagi? Mau nggak, kita menanggung konsekuensi untuk kasih effort lebih sebagai orang tua.

2 . Beban Masa Depan Anak

Seperti dua sisi mata uang ya. Di satu sisi, anak itu berkah, anak itu anugerah. Di sisi lain anak itu tanggung jawab. Tanggung jawab orang tua memenuhi hak anak sampai anak itu nantinya siap membangun masa depannya sendiri, itu berat kalau di mata saya.

Walaupun, saya percaya kalau Tuhan percayakan, pasti Tuhan mampukan. Pertanyaannya, MAU NGGAK kitanya nanggung konsekuensi itu?

Suami saya si bilang “MAU”, kenceng banget. Hehehe, sayanya yang emang rada phragmatis bilang “Mau, tapi diatur atur dulu ya.” Hehehe…. Kalau temen-temen enggak mau, yauda menurut saya gapapa, kan ga ada yang maksa juga. Kita uda dewasa woy.

Baca Juga: Pengalaman Menggunakan KB IUD

punya anak kedua

Pertimbangan Punya Anak Kedua

Karena dua hal tadi, di kami uda terjawab iya, “Iya pengen punya anak” dan “Mau menerima konsekuensi punya anak tapi dengan pengaturan” maka kami lanjut tu mempertimbangkan hal-hal yang lebih teknis terkait mengatur jarak kehamilan.

1 . Kesiapan Ibu

Setelah melahirkan pertama, dulu kami memang langsung konsul untuk merencanakan kehamilan berikutnya. Kalau anjuran Dokter Kandungan saya, disarankan untuk memberi jarak setidaknya dua tahun dari persalinan pertama. Selain untuk memberi waktu memberikan ASI, juga untuk memulihkan kondisi ibu. Saya kurang tahu ini berlaku umum atau khususon saran untuk kesehatan saya ya. Tapi alasan di atas makes sense si.

Selain kesiapan kesehatan fisik, kesehatan mental juga harus dipersiapkan ya. Masing-masing orang beda-beda menyiapkan mentalnya ya…. Terutama mungkin yang punya trauma atau kejadian tidak menyenangkan di kehamilan atau persalinan yang pertama, perjuangan persiapannya kudu lebih semangat!

2 . Kesiapan Anak Pertama

Selain ayah dan ibu, kami menanyai juga Anak Pertama kami tentang mau nggak punya adik. Sounding tentang hal ini kami mulai dari usianya 2 tahun, dan dia baru oke pas umur 3 tahun. Hehehe, lama juga ya…. Keuntungan mengatur jarak kehamilan memang jadi punya kesempatan untuk diskusi dengan anak.

3 . Kesiapan Ayah

Saya pernah googling dengan keyword “ayah mengalami baby blues” dan ternyata banyak juga ya pengalaman para ayah yang merasakan baby blues saat punya anak. Oleh karena itu, kesiapan ayah juga jangan diabaikan yak.

4 . Kondisi Keuangan

Ada pepatah, “banyak anak, banyak rejeki”. Ada juga yang berpendapat, ” Tuhan pasti akan menyediakan rejeki tepat pada waktunya.” Kami memahaminya si gini, rejeki si Anak tu nggak cuma “akan disediakan” tapi bisa jadi “telah disediakan”. Yang pasti yang “telah disediakan” Tuhan ya akal budinya orang tua ya.

Dengan akal budi itu, orang tua bisa mengatur keuangannya sedari dini. Jadi kalau ada yang bilang, duh ribet banget si ngatur uang, kaya nggak punya iman. Loh, malah enggak si kalau menurut kami. Mengelola uang sebagai rejeki yang sudah Tuhan percayakan juga bentuk iman sik.

Bukan berarti keuangan orang tua harus perfect dulu ya, baru boleh merencanakan punya anak kedua. Tapi kami berdua, dulu mengusahakan setidaknya keuangan kami dalam kondisi yang relatif sehat. Kriteria saat itu yang kami buat untuk kami antara lain:

  • punya penghasilan,
  • ada dana darurat,
  • ada asuransi jiwa untuk Bapak (pencari nafkah),
  • ada asuransi kesehatan setidaknya BPJS untuk Ibu,
  • cicilan hutang tidak lebih dari 30%.

Sambil jalan, kami mulai menabung untuk persiapan persalinan.

Setelah keempat hal ini kami rasa relatif aman, kami memutuskan untuk melepas KB IUD. Dari yang awalnya direncanakan lepas IUD di usia Gayatri 2 tahun, ternyata mundur sampai 3 tahun. Karena nungguin Gayatrinya “mau punya adek”. Hehehe….

Baca Juga: Menjadi Orang Tua yang Yakin pada Keputusan

Kalau ditanya, setelah ini mau anak ketiga ga? Kemungkinan si baru akan kami jawab nanti setelah punya anak kedua lahir plus dua tahun. Lihat-lihat kondisi lagi, kita evaluasi lagi pertimbangan-pertimbangan di atas, baru memutuskan untuk anak ketiga.

Santai aja, nggak perlu kemrungsung…. Perjalanan ini masih panjang, Teman-temaaaan! Ga perlu buru-buru memutuskan sesuatu yang besar tanggung jawabnya, tapi jangan juga mendasari keputusan hanya karena pendapat orang lain atau ketakutan diri sendiri. :) Jangan lupa bahagiaaaa!!!!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share