Manfaat Baby Spa di Rumah dan Cara Mudah Melakukannya

SPA adalah singkatan dari Sanitas Per Aqua yang berarti perawatan tubuh yang menggunakan media air. Pertama-tama dikenal di Belgia merujuk pada pemandian air panas. Kesimpulan sederhananya spa adalah terapi bagi kesehatan tubuh yang menggunakan air hangat.

“Duh, Nyahhh…. Di rumah saya tidak ada kolam renang nih, jadi nggak bisa dong baby spa di rumah!”

Mmmmm…. Kalau dari web-nya IDAI si, baby spa memang TIDAK harus dengan berenang seperti yang hits di kalangan ibu-ibu jaman now ya. Dalam artikelnya, CMIIW, IDAI menyebutkan secara implisit bahwa terapi air tidak selalu sama artinya dengan berenang. Saya sendiri pun menyesuaikan tahap-tahap baby spa dengan peralatan yang ada di rumah. Cara mudah melakukan baby spa di rumah akan saya bahas di bawah yaaa…..

spa baby di rumah

Manfaat Baby Spa di Rumah

Saya pernah membaca di web bidan.ku ada 14 manfaat loh dari melakukan spa bayi. Kalau teman-teman pengen tahu lengkapnya bisa dilihat di sini.

Kalau saya pribadi yang saya rasakan dari rajinnya saya (aseeek, rajin) melakukan baby spa adalah 1) pertumbuhan Gayatri yang sangat baik, dilihat dari tinggi dan berat badannya yang selalu ada di warna hijau grafik KMS. Untuk 2) perkembangan motoriknya juga sangat baik. Kata adik saya yang fisioterapis, hal tersebut adalah manfaat tidak langsung dari baby spa yang melibatkan unsur pemijatan.

Manfaat lain dari spa bayi yang langsung terasa adalah 3) peningkatan kualitas tidur bayi. Gayatri biasanya kalau habis di-spa, boboknya jadi pules dan tenang.

love love

Kelebihan Spa Bayi di Rumah

Mungkin ada yang masih ragu untuk melakukan baby spa di rumah karena satu dan lain hal. Saya mau sharing sedikit nih. Saya memiliki pengalaman melakukan spa di rumah maupun di salon bayi. Keduanya tentu memiliki kelebihan masing-masing. Untuk spa di rumah, menurut saya kelebihannya adalah sebagai berikut:

1 . Membuat bayi merasa lebih nyaman.

Saya yakin kalau Gayatri bukan satu-satunya bayi yang sering nangis kalau dipijat orang asing. Hehehehe…. Soalnya kalau sedang pijat di salon bayi, sering banget denger bayi yang nangis gerung gerung. Demikian juga bayi saya, walaupun Gayatri sendiri adalah bayi yang doyan dipijat, tapi dia tetap rewel saat dipijat oleh orang asing.

Berbeda kalau di rumah, dia akan merasa lebih familiar dan nyaman. Selain familiar dengan pemijatnya (saya sebagai ibu), juga dengan suasana rumahnya.

2 . Menambah bonding antara orang tua dan anak.

Selama baby spa tentunya orang tua sambil melakukan kontak mata dan juga bisa sambil melakukan stimulasi dengan mengajaknya bicara atau bersenandung.
Saya berpendapat kalau proses memijat ini tidak hanya memuaskan bayi, tapi membuat saya sebagai ibu juga merasa bahagia saat berinteraksi dengannya lewat tatapan atau respon-respon lucu yang dia lakukan. Misal: tingkah konyolnya merem melek saat dipijat atau bagaiman saat bayi excited melihat kecipak air dan busa sabun.

It’s really fun! Both parent and baby deserve it!

3 . Lebih terjamin

Baby spa di rumah tentu memudahkan orang tua untuk memastikan kebersihan peralatan, air yang dipakai serta keamanan produk bayi yang digunakan. Karena tentu orang tua yang paling tahu kondisi bayinya dooong!

spa bayi di rumah

4 . Hemat

Jujurly speaking yaaak, dengan manfaat yang sama dan mungkin malah lebih banyak, rata-rata biaya yang digunakan untuk spa di rumah lebih murah loh. Coba deh itung-itung sendiri hehehe, sebelumnya saya pernah bahas price list salon bayi di Bintaro di sini.

5 . Fleksibel

Melakukan baby spa di rumah tentunya lebih fleksibel dalam hal waktu. Kita tidak terikat jadwal, tidak harus antri, dan bisa dilakukan kapanpun selama orang tua dan bayi siap.

Cara Melakukan Spa Bayi di Rumah

Beberapa waktu lalu saya mencoba produk Little Bee dari Tupperware (yak! Tupperware kesayangan ibuuuu, penasaran kaaaan penasaran kaaaannnn) dalam rangkaian baby spa yang saya lakukan di rumah untuk Gayatri. Kira-kira cara dan tahapannya sbb ya….

1 . Stimulasi Pijat

Tahapan ini jangan sampai kelewatan ya. Adik saya (fisioterapis yang concern ke masalah anak/ pediatri) dari Gayatri kecil memesankan untuk rajin-rajin memijat bayi. Nggak harus ke dukun bayi, kaya jaman dulu. Orang tua pun bisa memijat bayi sendiri. Apalagi sekarang sudah banyak panduannya ya. Sesuaikan saja mana pijatan yang sedang dibutuhkan bayi.

Dalam melakukan pemijatan, orang tua wajib kudu dan harus memperhatikan reaksi bayi ya. Agar terasa nyaman gunakan minyak atau baby oil sebagai media.

Kesan pertama saya menggunakan baby oil dari Little Bee tuh nyaman ya, tidak lengket dan mudah dibilas saat mandi di tahapan kedua. Saya juga senang karena produk ini mengandung aloe vera yang baik untuk melembabkan dan regenerasi kulit.

2 . Mandi/ Berendam

Part favorit Gayatri adalah mandiiiiiiii!!!!!! Dia bahkan sudah bisa bilang “Naniiii, naniiii”, sambil berusaha melepas diapersnya. Hahahaha! Saat mandi juga jadi momen yang menenangkan buat saya, soalnya saya suka wangi powdery musk dari Little Bee Baby Wash dan Little Bee Baby Shampoo.

Namun patut dipertimbangkan juga, tentang fragrance di produk bayi ya. Produk bayi yang fragrancenya kuat, cenderung mengiritasi kulit bayi, jika kulitnya sensitif.

manfaat spa bayi

Yang harus diperhatikan saat memandikan bayi adalah suhu air serta ingredients dari perlengkapan bayi. Pilih yang melembabkan dan tidak mengandung bahan iritan ya. Seperti kedua produk dari Little Bee Tupperware ini. Jangan sampai lupa waktu juga yaaaa! 15 menit maksimal agar bayi tidak kedinginan.

3 . Perawatan Kulit

Perawatan kulit bayi pada tahap ketiga ini tentunya disesuaikan dengan kebutuhan bayi masing-masing ya…. Kalau Gayatri saya menggunakan Little Bee Baby Lotion di seluruh tubuhnya. Tidak lengket loh! Cepat meresap lotionnya.

Beberapa ibu yang senang menggunakan bedak bagi bayinya, produk Little Bee Baby Powder memiliki kelebihan yaitu adanya bahan Allantoin yang selain mencegah iritasi kulit, juga mengikat partikel bedak agar tidak berhamburan.

setrong

Cukup mudah kan? Mengingat manfaatnya yang besar, saya yang (kadang) malas-malasan aja bisa jadi rajin, hihihi…. Semoga artikel ini membuat temen-temen yang masih ragu untuk melakukan baby sa sendiri di rumah jadi tambah semangat yaaa!

Terimakasih sudah berkunjung! Salam sayaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Anakmu Sudah Bisa Anu Belum?

Pertanyaan yang sering sekali saya dapat. “Anakmu sudah bisa jalan belum?” “Anakmu sudah bisa ngomong belum?” “Anakmu sudah bisa anu belum?” “Ini itu belum?”

FullSizeRender

Hehehe…. #nooffense. Jujur saya jarang baper ya, karena toh selama ini Gayatri pun tumbuh kembangnya baik-baik saja. Walaupun ya namanya anak kan berbeda-beda timelinenya, kadang ada yang lebih cepat dibandingkan yang lain, atau lebih lambat. Selama masih dalam koridor normal, saya tetap tenang. Saya biasanya ngecek berdasar tes denver.

Tes perkembangan anak sendiri sebenarnya banyak, ada yang pakai KTSP, dll. Tes denver yang saya gunakan sendiri infonya tidak bisa mengukur ketertinggalan anak. Tentu saja, kalau mau mengukur ketertinggalan perkembangan anak tetap harus konsultasi dengan dokter ya. Namun kata dokter anak saya dan adik saya (yang fisioterapis) tes ini masih dapat digunakan sebagai screening awal. Dan saya juga menyukainya karena mudah digunakan.

Related post: Tes Denver.

Walaupun jarang baper, kadang saya berasa bingung menghadapi pertanyaan, “Anakmu sudah bisa anu belum?” ini. Paling salah tingkah jika pertanyaan tersebut ditanyakan di dalam kelompok dimana ada anak lain selain Gayatri. Walaupun jujur saya bangga pada sekecil apapun perkembangan anak saya. Bukan sombong ya. Tapi saya tetap tidak suka membanding-bandingkan perkembangan anak.

Saya jawab nanti ibu lain baper.

Saya nggak jawab tar dikira saya yang baper.

Rikuh. Serba salah. Tiap anak kan punya milestonenya sendiri. Bandinginnya ya sama milestonenya sendiri dari hari ke hari, bukan sama anak orang lain. Jadi sebisa mungkin saya menghindari kemungkinan membahas hal demikian.

hehehe

Ada yang perkembangan anaknya itu jalan duluan dibanding yang lain. Ada yang ngomongnya duluan. Ada yang emang dua-duanya duluan. Ya terserah Tuhan yang kasih perkembangan anak lah. Membanding-bandingkan perkembangan anak hanya akan menuju hal-hal yang lebih banyak mudaratnya. Entah kesedihan bagi si Ibu, atau malah kesombongan.

Padahal, siapa kita coba (sebagai ibu) patut untuk sombong atau sedih atas pertumbuhan anak yang dikaruniakan pada kita?

Bagian kita tuh, berusaha. Ikhtiar.

Dan berdoa.

Uda.

Okeeeee…. Saya maklum juga, kadang pertanyaan seperti ini dilakukan untuk memecah kebekuan. Untuk memancing pembicaraan. Tapi plis sebisa mungkin lakukanlah saat tidak dalam kumpulan anak-anak. Untuk menghindari saling membandingkan perkembangan anak masing-masing.

Saya akan seneng banget kok, kalau ditanyain dalam rangka buat diskusi. Diskusi tentang stimulasi yang dilakukan. Gimana kalau uda begini. Atau begitu. Saya juga suka kalau dikasih informasi dan masukan yang berimbang. Jadi fokusnya di “yuk, kita mau ngapain”. Proses. Dan lebih positif gitu vibenya. Dibandingkan pertanyaan yang ujungnya ditimpali dengan, “Oh, anakkmu begitu, kalau anakku….”

Gitu aja sik. Hehehe….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

MPASI On The Go, Bukan Panduan MPASI saat Traveling

Awalnya saya nggak berniat menuliskan MPASI saat traveling versi Gayatri karena MPASI yang saya sediakan bukan yang perfeksionis-perfeksionis amat. Merasa takut menyesatkan. Hehehe….

Namun karena mbak Gusti Tia @tiasangputri request, trus kebetulan di hari yang sama temen lain juga nanya via WA group, ya udah saya tulis aja yak. Sekali lagi, sesuai judul MPASI on the go versi Nyonyamalas ini bukan panduan (karena memang banyak hal yang nggak ideal), sifatnya hanya sekedar sharing pengalaman.

MPASI on the go

Pertimbangan MPASI saat Traveling:

1 . Standarnya berbeda dengan saat di rumah, kepraktisan jadi prioritas juga.

Saya menekankan baik-baik di pikiran saya, yang kadang suka kumat perfeksionisnya, kalau kondisi di rumah dan di “jalan” itu berbeda. Saya harus belajar untuk fleksibel dan juga concern terhadap kepraktisan. Standar yang berbeda kalau di rumah dengan di jalan terutama ada pada jenis menu yang dipilih, yaitu saya akan memilih menu-menu yang mudah diolah.

Prioritasnya bisa diurut sbb:

  • Yang tetap jadi prioritas utama tentu adalah kebersihan.
  • Prioritas selanjutnya adalah meminimalisasi makanan yang berisiko memicu alergi.
  • Kepraktisan naik pangkat prioritas ni kalau saat traveling.
  • Kelengkapan menu empat bintang juga tetap saya usahakan.
  • Menu non garam juga saya perhatikan, namun tidak seketat di rumah.

Toh bocah tidak akan langsung anemia cuma karena nggak makan daging sapi selama dua hari traveling. Katakanlah begitu. Tapi kalau kebersihan bisa bahaya sih, kan bisa kena diare di perjalanan dan itu fatal. Maka dari itu kebersihan nomor satu, utamakan selamat. Kelengkapan menu jadi prioritas yang lebih rendah.

2 . Jaga berat bawaan.

Peralatan MPASI kan sebenarnya bisa sedikit bisa juga banyak. Nah kalau di jalan saya akan meminimalisasi membawa peralatan yang berat-berat. Atau kalau bisa malah nggak membawa alat masak sama sekali.

3 . Kenali lokasi penginapan.

Saya tidak anti untuk membeli makanan untuk Gayatri, dan memodifikasinya menjadi makanan bayi. Tentu untuk dapat melakukannya saya harus mengenali lokasi penginapan terlebih dahulu. Seperti di poin 1 tadi, tentu kebersihan adalah nomor 1 ya. Saya berani makan/ beli makan buat Gayatri kalau sebelumnya saya pernah makan di tempat tersebut.

4 . Rileks.

Saya traveling biasanya karena ada acara keluarga, kerjaan kantor atau liburan. Ya saya mau fokus untuk mengerjakan hal-hal tersebut. Even untuk liburan pun saya mau fokus liburan. Hahahaha…. Saya nggak pengen juga karena saya ribet masak, eh kepasan bocah juga lagi malas makan trus saya jadi bad mood sepanjang perjalanan.

Berikut saya jembrengin pengalaman saya ya. Nyonyah pasti akan menemukan banyak kekurangan, jadi mohon jangan berekspektasi terlalu tinggi yak. Ya memang beginilah kenyataannya sih…. Heeee….

Umur 6 bulan – 7 bulan

Umur segini paling saya bawa Gayatri main di sekitaran Jakarta aja. Jadi ga terlalu masalah. Karena ga terlalu lama, bisa bawa bekal makanan (bubur). Kalaupun ga bisa bikinkan bubur, saya bawa pisang atau alpukat. Di jalan tinggal kerok. Tadi saya coba ubek-ubek Galery handphone dan nemu foto ini…. Tapi ini saya lupa pastinya umur berapa kayanya si sekitar 7 atau 8 bulanan deh…. bekalnya kaya gini hehehe….

Sebenarnya bawa bekal bubur sudah jadi seperti ini berisiko ya. Karena makanan matang, agar tidak terkontaminasi bakteri, seharusnya disimpan pada suhu tertentu (di kulkas) bukan di suhu ruang.

kantor

Bagaimana kalau harus menginap? Akankah Nyonya bawa slow cooker dll?

Jawabannya Tidak. Karena di rumah, walaupun ada slowcooker, saya terbiasa masak bubur pakai panci atau alat lain yang ada. Biasanya panci tersedia kalau di penginapan yang ada kitchenettenya.

Paling saya bawa 1) saringan dan 2) parutan keju kecil. Alasannya karena nggak semua tempat menginap menyediakan dua benda ini. Lagipula dua benda ini versatile serta ngebantu banget untuk bikin MPASI, dan ukurannya keciiiiillll. Tinggal diselipin di diaper bag aja muat.

Trus gimana kalau mau menu empat bintang Nyah?

Kembali lagi, sesuaikan dengan lokasi penginapan. Sebisa mungkin cari penginapan yang memungkinkan kita berbelanja jika memang ingin memasak di lokasi traveling. Pilih bahan yang mudah disaring pakai saringan. Jangan pula beli daging sapi yang ga digiling, misalnya. Masak bubur pakai panci. Saring.

Lhah kalau di penginapan?

Nhaini memang agak tricky sih kalau nginepnya nggak di rumah Saudara. Tips dari saya si, better sewa apartemen harian atau mingguan ya daripada hotel. Karena di apartemen biasanya ada dapur kecil, dan biasanya juga dekat dengan pusat perbelanjaan.

Saya baru sekali bawa bayi nginap apartemen harian, yaitu pas di Surabaya. Nyewa satu unit Puncak Kertajaya untuk tiga hari. Lebih murah kok daripada hotel. Dan di dekat situ dekat Giant dan Superindo. Ada dapur sederhana, yang penting ada kompor, panci satu dan alat makan. Aman.

Di situ juga ada kantin yang jual gado-gado. Itu rebusan sayur (labu siam, dll), tahu goreng, kentang atau lontong, bisa dialusin jadi bubur bayi kalau kepepet. :P Hehehe…. Disclaimer: Suami dulu tinggal di apartemen ini setahunan, cuma beda tower, jadi dia tahu kantin mana yang layak diacungi jempol kebersihannya.

Saya punya food processor Nyah? Menurut Nyonyah gimana?

Saya nggak punya si, jadi nggak bisa cerita tentang food processor. Mohon maap. Hehehe….

Trus kalau mau bawa alat masak segambreng salah nggak?

Ya enggak papa juga si. Kalau bawa mobil sendiri, apa lagi, ya monggo. Itu tadi versi saya yang pulang kampung atau traveling-nya biasa ke luar kota dan kendaraan yang digunakan adalah pesawat. Sesuai Prinsip MPASI on the go versi Nyonya: Jaga berat bawaan.

setrong

Umur 8 bulan

Umur ini adalah masa paling ekstrim, karena saya sering bolak balik RS nganter Mbah Uti dan juga suami yang opname. Karena ga ada pengasuh, terpaksa Gayatri sering saya bawa ke RS atau ke kantor. Jujur kadang kasian juga sama anak. Tapi bersyukurnya, kami diberi kesehatan dan kekuatan. Setiap pergi-pergi sama juga saya bawa bekal makanan dari rumah.

Pernah, suatu saat saya tidak ekspektasi kalau observasinya Mbah Uti akan lama, dan nggak bawa makanan bayi. Saya melipir ke kantin untuk minta dibuatkan puree alpukat, tanpa gula, es dan susu. Syukurlah kantinnya mau membuatkan. Dengan berdoa, semoga alat makannnya bersih, puree alpukat jadi pengganjal makannya bocah.

Pernah juga saya pesan nasi tim ayam di Kantin Eka Hospital. Memang ini ga ideal untuk dilakukan, walaupun kantinnya bonafid dan bersih, namun bagaimanapun kita tidak bisa menjamin apa yang terkandung di makanannya. Termasuk juga kandungan garamnya. But, kalau sudah darurat, saya pilih yang terbaik yang bisa didapatkan dulu.

Umur 9 bulan – 10 bulan

Umur segini saya sudah mulai merasa mudah, karena Gayatri uda bisa makan makanan keluarga yang dimodifikasi. Saya menyiapkan makanannya dari makanan saya, hehehe. Cuma konsekuensinya, saya harus memilih makanan yang mungkin untuk saya modif jadi makanan bayi.

Pas di usia ini yang laing berkesan buat saya adalah traveling ke Yogyakarta. MPASI saat traveling-nya Gayatri saya bagi menjadi 2 sistem: sarapan di hotel dan selain sarapan makannya di luar.

sheraton

1 . Sarapan di hotel

Kurang lebih 4 hari saya menginap di Sheraton Mustika Hotel, dan so far seneng banget dengan menu-menu yang tersedia di sana karena bisa di modif jadi makanan bayi. Tiap hari berbeda si, tapi yang pasti di sana ada salad bar, omelet dan juga juicer yang ready buat digunakan secara custom. Beberapa paduan menu yang berhasil saya coba kulik:

1) Tofu, nasi, brokoli rebus, potongan ayam rebus dari stall soto,

2) Omelet, kentang, tomat panggang, tahu,

3) Kentang, omelet, wortel rebus, kacang merah rebus,

4) Kentang, buncis, ikan goreng (emacam dori/ gurame tepung dikuliti tepungnya).

Apalagi yaaa…. Ada yang uda kelupaan juga, hehehe…. Prinsip empat bintang sebisa mungkin saya pegang. Karbonya bisa dicari aja keliling resto, bisa diganti bubur ayam, lontong, ketupat, etc etc etc….

2 . Makan di luar

Menu resto yang paling lazim dan ada di mana-mana yang biasa saya pesan untuk Gayatri adalah ikan bakar (bumbu dipisah). Kulitnya dikupas, daging ikannya dilumat, sama lalapannya timun atau tomat bisa juga jadi finger food ala-ala. Trus apalagi ya, di PHD ada salad bar. Cuma kentangnya uda dicampur mayo. Kalau mau, dicuci bentar pakai air mineral. Salad barnya PHD malah ada kacangmerah, wortel rebus dll-nya. Kalau di Marugame Udon, beli kaldu ikan/ ayamnya terpisah itu murni kaldu loh, nggak pakai garam. Bisa jadi opsi lain buat makan di luar juga.

Yang aman tapi mahal ituuuuu Hanamasa. All you can eat dan “masak sendiri” kan, jadi bisa ngasih daging, sayur, tofu, nasi, dan segala macemnya ke bocah. Tapi nggak mungkin juga ye kita makan tiap hari di Hanamasa. Bisya bisya Bapak syewot bayarnya….

hehehe

Selain itu saya bawa makanan siap saji khusus bayi juga si. Saya bawa Heinz sama Milna biskuit. Gayatri pas umur segini entah kenapa ga doyan makanan instant bubuk. Heinz dan Milna ini jadi kaya last resource banget, daripada nggak makan.

Umur 11 bulan – 12 bulan

Usia ini mah sama seperti makanan di poin sebelumnya, bedanya saya sudah nggak mikir ngalusin lagi. Syukurlah Gayatri naik teksturnya lancar, jadi uda bisa makan nasi. Yang jadi perhatian dan PR bagi saya adalah meminimalisasi asupan garam dan memilih tempat makan dengan kebersihan makanan yang terjamin. Untuk alat makan, saya tetap prefer bawa alat makan sendiri.

Menjelang satu tahunnya Gayatri, kami liburan ke Surabaya dan Bromo, di sini lah MPASI paling koboi yang pernah saya lakukan. Soalnya mostly makanan yang tersedia adalah makanan family yang uda full bumbu. Tapi ya sudahlah uda mau setahun ini ya…. Maafkan ibu ya naaaakkk!

kuat

Hmmm…. jadi banyak juga yak bahasan MPASI saat travelingnya, hehehe…. Semoga sharing kali ini bermanfaat ya Nyaah…. Feel free untuk berbeda pendapat loh. Boleh juga memberi masukan atau berbagi pengalaman selama ini…. Terimakasih sudah mampir, salam sayang selalu….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share