Perlengkapan Bayi Baru Lahir yang Perlu Dibawa saat Persalinan (my maternity bag stories #2)

Sebelumnya saya sudah membahas tentang barang keperluan ibu yang perlu dibawa saat persalinan di artikel my maternity bag stories #1. Sekarang giliran perlengkapan bayi baru lahir yang akan saya bahas. Artikel ini sebenernya sudah lama saya janjikan tapi tak kunjung saya posting. Sampai ditagih-tagih sama temen saya, Neng Dipel yang mau lahiran bulan iniiii….. Doain temen saya persalinannya lancar ya teman-temaaaan…..

Oiya, perlengkapan bayi baru lahir yang akan saya bahas di artikel ini saya batasi hanya yang perlu dibawa saat persalinan ya….

Berikut perlengkapan bayi yang menurut saya perlu untuk dibawa saat persalinan:

selimut popok kaus kaki gedong maternity bag

1 . Popok

Mau pakai popok kain maupun disposable diapers is up to mommy ya. Dua-duanya ada baik dan buruknya. Kalau pengalaman saya, dulu membawa dua-duanya. Setengah hari setelah melahirkan, bidan dan dokter di klinik bersalin dimana saya melahirkan menganjurkan untuk menggunakan popok kain dulu. Bukan karena disposable diapers itu ga baik. Hanya saat itu, bidan ingin memantau jumlah pipis bayi. Kalau pakai dispo kan jadi susah terpantau ya. Setelah masa sehari itu, saya mengenakan disposable diapers ke Gayatri, pertama menggunakan ketika perjalanan pulang dari klinik ke rumah. Welcome home gayatri!

Saya saat itu membawa 6 pcs popok kain dan 13 pcs disposable diapers.

Artikel terkait: Gonta Ganti Merk Diapers, Yay or Nay?

2 . Kain bedong

Bidan dan dokter di BWCC tidak menganjurkan untuk membedong bayi dengan ketat seperti jaman dulu. Namun, bedong longgar masih diperlukan untuk menjaga agar bayi tetap hangat seperti di kandungan ibu. :) Waktu itu saya bawa 6 kain bedong apa ya…. Banyak soalnya saya pakai juga buat ngelapis alas bobok bayi dan untuk menyelimutinya dari dekapan angin cemilir cemilir AC.

Artikel terkait: Mitos Bayi Pasca Persalinan

3 . Selimut

Sebenarnya kalau pas bobo, saya menyelimuti Neng Gaya menggunakan kain bedong, hehehe. Selimut yang saya maksud di poin 3 ini adalah kain selimut tebal yang ujungnya ada segitiganya (di foto tampak selimut berwarna putih dengan kepala beruang). Kain ini bermanfaat untuk membungkus bayi saat perjalanan pulang dari klinik. Jadi terasa lebih hangat dan empuk. Cukup bawa satu saja. Ga perlu beli banyak-banyak soalnya bakal jarang dipakai. Saya punya empat karena dikasih sih. Hihihi….

4 . Sarung tangan dan kaki

Saya membawa 3 pasang sarung tangan dan kaki. Oiya, sarung tangan dan kaki ga usah beli banyak-banyak. Menurut saya ya, hehehe. Soalnya saya penganut pakai kaus tangan dan kaki kalau kedinginan saja, ga tiap waktu dipakai. Alasannya biar tangannya megang-megang banyak hal dan memantapkan saraf sensoriknya. CMIIW yak. :)

Untuk kaus kaki sendiri, ada beberapa jenis ya. Seperti yang tampak di foto di atas (bukan yang di bawah), saya punya tiga jenis kaus kaki. Yang pertama yang berwarna putih dengan list oranye adalah yang berbahan katun itu yang saya bawa saat persalinan. Jenis yang pertama ini hanya dipakai sebentar saja. Sementara dua jenis yang lain dipakai sampai agak besar kalau pergi-pergi, jadi jangan pilih yang terlalu kecil. Yang ada bonekanya itu juga baik untuk latihan motorik, karena di dalam bonekanya terdapat krincingan. Krincingan tersebut akan berbunyi saat bayi bergerak, sehingga memotivasinya untuk aktif.

kain gendong tisu topi maternity bag

5 . Topi

Untuk topi saya membawa 2 topi kain atau yang sering disebut juga dengan kethu.

6 . Anting

Ini khusus buat yang bayinya diprediksi berjenis kelamin perempuan yaa…. Oiya tips dari saya, sebelumnya survey dulu apakah di klinik/ RS tempat bersalin menyediakan fasilitas tindik. Biar bisa sekalian pas habis lahir ditindik. Saya dulu ga memanfaatkan fasilitas ini di BWCC karena ga tau, huhuhuhu…. Jadi harus balik lagi deh beberapa minggu kemudian. Untung pas sekalian kontrol.

7 . Kain gendongan

Kain yang saya bawa adalah dua kain jarit motif batik yang embok embok banget dan satu kain gendong motif monyet, hehehe…. Perlunya hanya satu buah si yang untuk bayi. Tapi saya bawa tiga. Yang satu untuk lapisan alas tidur saya, dan satu lagi buat cadangan selimut saya, hehehe, maklum saya maniak kehangatan.

8 . Tisu (Tisu kering dan tisu basah)

Tisu kering bermanfaat untuk melap gumoh, pupup bayi, dll. Bawa satu bungkus yang isi 50 atau 90 itu saja cukup.

Sama seperti tisu kering, tisu basah bermanfaat untuk melap gumoh, pupup bayi, dll. Namun tisu ini fugsi utamanya adalah untuk cebok. Atau menyeka bagian alat kelamin setelah pipis supaya bersih. Bawa satu bungkus yang isi 50 atau 90 itu saja cukup. Pilih tisu basah yang tidak beralkohol dan juga tidak ber-fragrance untuk menghindari iritasi. Oiya kadang ada tisu basah yang diberi tambahan aloe vera. Niatnya si baik ya, namun ada kalanya bayi alergi dengan zat tambahan seperti ini. Gayatri salah satunya.

Jika tidak suka menggunakan tisu basah, bisa juga menggunakan kapas bulat yang dibasahi dengan air. Saya mengamati di klinik BWCC dan di RS IMC, bidannya memiliki satu wadah khusus berisi kapas yang direndam dalam air. Fungsinya untuk cebok bayi.

ala mandi termometer wadah ar ari maternity bag

9 . Termometer

Sebenarnya termometer tidak harus dibawa saat persalinan karena di klinik atau rumah sakit pasti ada. Namun, saya memasukkannya di list ini untuk menyatakan sebaiknya termometer sudah tersedia saat bayi keluar klinik. Buat jaga-jaga dan untuk memonitor perkembangan suhunya. Apakah dia kedinginan atau kepanasan. Dan yang lebih penting lagi untuk mengukur suhu tubuh bayi dengan akurat apabila terjadi demam. Saya bersyukur sekali waktu itu saya sudah memiliki termometer sebelum Gayatri lahir (sejak saya hamil). Karena kalau tidak mungkin infeksi Gayatri akan terlambat diketahui. Oiya, ketika bayi dibawah usia 40 hari mengalami demam, langsung hubungi dokter yaaa! :)

10 . Alat Mandi

Saya bawa alat mandi beruba sabun dan shampo bayi two in one, padahal sebenarnya di klinik disediakan juga hehehe. Jadi better ditanyakan juga ke kliniknya apakah mereka menyediakan alat mandi atau tidak. Oiya, saya kepikiran juga tentang minyak-minyakan dan bedak-bedakan. Kalau Gayatri tidak pakai bedak tabur sampai sekarang.

Untuk pemakaian minyak telon, saya memakaikannya ke Gayatri mulai umur dua mingguan. Kata dokter asal bayi nggak kedinginan nggak pakai minyak telon gapapa. Malahan beliau bilang untuk hati-hati menggunakan kosmetika bayi karena kadang bisa membuat alergi. Untuk itu sebaiknya memilih produk bayi yang aman dan juga hypoalergenic yang sudah teruji secara klinis aman untuk kulit bayi yang sensitif ya.

Sejak persalinan pertama saya sampai kedua, saya mencoba beberapa produk dari beberapa brand. Paling baru saya mencoba Baby Series dari brand Mama’s Choice yang baru dilaunch di akhir 2020, antara lain Rash Cream, Tummy Oil alias minyak telon, dll.

Baca Juga: Review Mama’s Choice Rash Cream untuk Ruam Popok Bayi

Oiyaaa, kadang ada klinik yang memberi kita paket peralatan bayi lho sebagai hadiah.

11 . Handuk Bayi

Kalau kondisi tubuh dan suhu bayi oke, dalam satu hari itu kita bisa minta bayi kita dimandikan, sekalian ibu latihan memandikan dan memijat bayi. Waktu itu karena Gayatri suhunya turun saya tidak sempat latihan mandi di klinik BWCC. Akhirnya saya latihan memandikan dan memijat bayi di IMC pas Gayatri insisi. Kalau bidannya tidak menawarkan latihan memandikan dan memijat, coba kita sebagai pasien yang berinisiatif meminta latihan. Menurut saya dua skill ini bermanfaat banget. Tambah satu lagi, latihan merawat luka di pusar bayi. Penting, untuk mencegah infeksi pada bayi.

PENTING! Baca Juga: Pengalaman Periksa Kehamilan Saat Wabah Corona

12 . Tempat ari-ari

Ini agak ribet nyarinya nih, karena harus ke pasar tradisional. Bentuknya seperti kuali dari tanah berukuran kecil. Beberapa klinik seperti BWCC tempat saya melahirkan, menyediakan benda ini secara gratis (masuk dalam harga paket melahirkan), namun ada juga Rumah Sakit yang menjualnya secara terpisah.

perlengkapan bayi yang harus dibawa saat persalinan

Jangan membawa terlalu banyak barang karena akan ribet, tapi jangan juga nggak prepare. Mungkin gitu ya prinsipnya. Apalagi yang lahiran sendiri, hanya bareng dengan suami dan tidak ditunggui keluarga besar. Sebisa mungkin buat bawaan di tas sepraktis mungkin, seringan mungkin. :) Sehappy mungkiiiinnn!!!

Selamat mempersiapkan persalinan ya Nyaaahhh….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Barang yang Perlu Dibawa Saat Persalinan (My Maternity Bag Stories Part 1)

Di hari-hari biasa, sebenarnya saya tipe yang selow, sangat santai cenderung rileks. Namun jika dihadapkan dengan sesuatu yang berkaitan dengan kehamilan, saya cenderung mudah panik, hal-hal kecil yang tidak pas bisa bikin saya cranky. Karena itulah saya berusaha melakukan persiapan persalinan sebaik-baiknya, termasuk mempersiapkan barang ibu yang perlu dibawa saat persalinan. Saya ga pengen aja, pas di klinik, tiba-tiba keingetan kalau ada barang yang ketinggalan. Bisa langsung bubar jalan konsentrasi dan ketenangan hasil latihan yoga dan hypno selama ini kan. Bisa tiba-tiba berubah jadi hulk saya. (((HULK)) Hehehe….

barang yang harus dibawa saat persalinan 3

Saya mulai mencicil mempersiapkan barang untuk persalinan saya sejak 1 bulan sebelum HPL. Menyicil belinya bersamaan dengan membeli peralatan bayi. Bersyukur sekali toko peralatan bayi Maebebe di dekat rumah sangat lengkap sehingga tidak perlu jauh-jauh ke mall atau ITC. Namun sepertinya karena dekat, gaya belanjanya tetep aja slebor, tidak bawa list, jadi sering bolak-balik deh. Hehehe…. Padahal sebenarnya saya sudah bikin list cantik, hasil nanya-nanya ke bidan dan baca-baca buku persiapan kehamilan. Eh, dasar slebor, list nya sering ga kebawa pas belanja. Zzzzz…. Jangan ditiru ya Nyah….

Nah, untuk keperluan ibu, list barangnya saya share di artikel ini ya, sementara list keperluan bayi aku share di artikel My Maternity Bag Stories Part 2. List ini tuh bukan fatwa yang pasti bener. Paling bagus sebenernya Nyonyah ngobrol dengan bidan atau dokter yang akan membantu persalinan. Jadi listnya bisa disesuaikan dengan kondisi tempat persalinan nanti. List ini  sebagai gambaran umum aja ya Nyah….

barang yang harus dibawa saat persalinan 1

1 . Baju Ganti

Baju ganti sebenarnya tujuannya ada dua: untuk dipakai saat menunggu persalinan dan untuk dipakai setelah persalinan.

Mengapa perlu baju ganti saat menunggu persalinan? Karena lama proses pembukaan kadang kala tidak bisa ditebak, jadi tidak ada salahnya untuk membawa baju ganti lebih. Untuk persiapan siapa tahu menunggu persalinannya lama dan perlu ganti baju.

Sementara baju ganti setelah persalinan wajib hukumnya yang busui friendly. Saran saya lebih baik menggunakan kaos katun yang ada akses untuk menyusui. Karena praktis dan nyaman. Kemeja kancing depan juga dapat digunakan. Namun, kaos katun lebih aman karena bagian dada depan tetap tertutup. Pentingnya karena seringkali ada Bapak, Mertua laki-laki atau Saudara yang menengok. Kan risih tapi sungkan juga untuk menyusui dengan pakaian terbuka saat ada beliau. Pilihan lainnya adalah menggunakan nursing apron. Tapi nursing apron bikin kita ga bisa liat dedek dan posisi menyusui. Pentingnya bisa melihat posisi dedek adalah karena ibu dan bayi masih sama-sama belajar posisi menyusui yang nyaman. Penggunaan apron di saat itu saya rasa ribet.

Untuk kaos busui aku kemarin dapat hadiah satu kaos, yang nyaman banget. Sampai akhirnya aku beli lagi 2 pcs. Bahannya adem sayangnya motifnya terbatas. But, buat busui mah i dont care lagi. Nyaman jadi concern paling wahid.

Jumlah: minimal 2 kaos ramah busui, beberapa bra khusus menyusui dan breast pad. Walaupun di kasus saya, breast pad akhirnya belum terpakai saat baru melahirkan karena ASI nya masih sedikit.

PS. bawa cadangan celana dalam yang banyak ya, jaga-jaga kalau tembus :)

2 . Pembalut

Untuk jaga-jaga bawa 1 pak pembalut panjang. Tidak harus pembalut khusus nifas, pembalut biasa yang tipenya night menurut saya cukup.

3 . Alat Mandi dan Make Up

Handuk, sabun, shampo, sikat gigi dll. Printilan ini sering ketinggalan loh. Tidak harus bawa make up sih, tapi ada baiknya juga bawa, agar sempat touch up saat banyak yang besuk. Jadi kelihatan segar. Apalagi biasanya ada sesi foto-foto kan tuh kalau besuk. Walau lelah tapi harus kelihatan bahagia dong!

Related Post: Review Bio Oil untuk Ibu Hamil dan Pasca Melahirkan

4 . Stagen atau Korset atau Gurita Ibu

Penggunaan teknologi pencegah perut bergelambir ini harus dikonsultasikan ke dokter/ bidan terlebih dulu ya. Terutama untuk yang melahirkan secara cesar setahu saya tidak boleh menggunakan korset. Kemarin saya melahirkan normal dan kebetulan juga diizinkan menggunakan korset. Jadi saya membawanya (dipaksa mama si sebenernya, hehehe).

5 . Makanan Ringan

Ga tau apa semua ibu mau melahirkan seperti saya ya, kelaperan. Proses persalinan saya dimulai pukul 10 malam dan dedek bayi lahir jam 4 sore hari setelahnya. Malam saat menunggu kontraksi datang saya masih sempat makan roti bakar dan pisang bakar (untung klinik dekat roti bakar edi). Paginya juga gitu. Walaupun sudah dapat ransum dari klinik bersalin, makanan ringan penting loh buat jaga-jaga, siapa tahu kuantitas ransum di klinik kurang. Makanan ringan juga bermanfaat jika ternyata nafsu makan menurun. Ibu melahirkan kan butuh energi ya. Tapi ada kalanya terlalu mules untuk makan nasi. Ya daripada perut kosong, lebih baik ngemil-ngemil bergizi kan.

Ga kalah pentingnya juga bawa air minum ya.

barang yang harus dibawa saat persalinan 2

6 . Handphone + Powerbank/ Charger

Walaupun menjelang kehadiran anggota keluarga baru, kita cenderung ingin menikmatinya tanpa gadget, ada baiknya handphone tetap siaga untuk jaga-jaga. Pastikan baterai dan pulsanya ada ya….

7 . Kain

Saya menyiapkan satu lembar kain panjang seukuran kain batik untuk saya bawa saat persalinan. Fungsinya: 1) sebagai alas tidur diatas perlak/ underpad, 2) bisa jadi bawahan pakaian (dibuat rok darurat), 3) bisa jadi tambahan selimut dan 4) bisa jadi kain gendong saat perjalanan pulang.

8 . Tisu

Kami membawa tisu kering dan tisu basah. Untuk tisu basah pilih yang no fragrance dan no alkohol. Tisu basah digunakan untuk menyeka mulut, membersihkan pipis dan pupup bayi, dll. Jika tidak berkenan menggunakan tisu basah, Nyonya-nyonya bisa menggunakan kapas bulat basah. Demi kepraktisan sediakan satu tuperware berisi air dan masukkan kapas di dalamnya. Sehingga dapat digunakan sewaktu-waktu diperlukan.

9 . Buku Kontrol Kehamilan

Buku kontrol kehamilan sifatnya wajib dibawa sebagai alat bagi dokter untuk mengingat histori dari ibu hamil. Dengan mengetahui histori kehamilan diharapkan dapat membanu dokter untuk mengambil keputusan-keputusan yang diperlukan saat persalinan.

10 . Plastik atau Goodie Bag

Plastik atau goodie bag berguna sebagai tempat baju kotor, untuk bawa balik ari-ari, dan juga dapat dipakai sebagai tempat sampah sementara. Jumlah yang dibawa setidaknya tiga buah.

11 . Gym Ball (optional jika punya)

Jika memiliki gym ball di rumah ga ada salahnya lo buat dibawa. Memang repot si, tapi gym ball bermanfaat banget untuk mengurangi rasa mules pas kontraksi. Pengalaman pribadi selama menunggu bukaan lengkap saya duduk di gym ball (milik klinik) dan geal geol sambil nahan mules. Better sih rasanya jadinya.

12 . Kartu Asuransi/ Surat Rujukan

Jika RS/ klinik langganan bekerja sama dengan asuransi kita enak tuh. Tinggal bawa kartu asuransi saja. Namun jika tidak, cari tahu seperti apa prosedurnya sebelumnya. Misal apabila menggunakan BPJS, surat rujukan apa yang harus disiapkan. Supaya di hari H, proses pembayarannya mudah dan lancar.

Itu list barang yang perlu dibawa ibu saat persalinan ala saya, klik di sini untuk list perlengkapan bayi. Kalau kamu uda siapin apa saja? Jangan lupa untuk konsultasi juga ke tenaga medis yang akan membantu persalinan ya. Share di komen persiapanmu yaaaa :)

barang yang harus dibawa saat persalinan

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Gonta Ganti Merk Diapers, Yay or Nay?

Temen-temen yang pren-pren-an di Facebook mungkin sempat baca status pertanyaan saya tentang diapers. Tepatnya bertanya tentang merk diapers yang dipakai dan apakah para mommy melakukan gonta ganti diapers atau malah menggunakan beberapa merk diapers bersamaan. Postingan status saya kurang lebih sebagai berikut:

newbie bertanyaPostingan status ini trigger-nya adalah pengalaman mencari diapers yang cocok untuk bayi kami, yang ternyata gampang gampang susah. Awalnya saya dan suami tidak berpikir untuk berganti-ganti merk diapers. Ekspektasi saya dan suami, sekali beli bakal langsung cocok soalnya. Hehehe. Berbekal ekspektasi tadi (dan pengetahuan tentang perbayian yang minim), kami belanja diapers secara online. Saat itu kebetulan ada diskon diapers besar-besaran. Tebak berapa bungkus yang diangkut ke rumah? Ga tanggung-tanggung, 30 bungkus ukuran newborn!

Kenapa kok kami sampai membeli sebanyak itu? Karena waktu itu, kami menghitung perkiraan per hari akan menggunakan 6pcs diapers (karena juga campur popok kain). Kemudian kami mengasumsikan bahwa diapers newborn akan digunakan selama 60 hari atau sampai dedek berumur 2 bulan. Jadi kami perlu diapers setidaknya 6 pcs/hari x 60 hari = 360 pcs. Nah karena satu bungkus (merk yang kami beli saat itu Pampers Newborn Premium) isinya 13 pcs, maka minimal kami harus beli kurang lebih 28 bungkus. Mangkanya akhirnya kami bulatkan untuk membeli 30 bungkus. Lagi promo ini! Hihihi…. Hitungannya matematika belaka. Bahkan kami ga berpikir sama sekali tentang faktor lain, seperti apakah diapernya lembut, berapa kapasitasnya, potensi alergi dan ruam, dll. #maklumnewbie

Pengalaman Ganti Merk Diapers

Nah, pas bayi Gayatri masuk Rumah Sakit, dia menggunakan diapers sepanjang hari. Entah karena diapersnya jarang diganti oleh perawat, atau karena kulitnya memang sensitif, dua hari di RS muncul gejala ruam. Akhir-akhir ini, kami baru tahu kalau penggunaan antibiotik ternyata meningkatkan potensi ruam, loh. Karena bakteri baik di bagian bokong juga ikut mati. CMIIW. Nah, karena ada gejala ruam tersebut, perawat meminta kami untuk membeli diaper dengan merk lain. Maka belilah kami Mamipoko yang standar. Pertimbangan kenapa kami memilih merk ini karena taunya cuma dua merk diapers. Hehehe, pampers sama mamipoko. #maklumnewbie Hihihihi, beralih dari yang premium ke yang standar, bayi Gayatri malah tidak mengalami ruam. Ya ampun, anak ekonomis bener yak. :kiss :kiss

Tips 1: Jangan beli diapers langsung banyak kalau belum tau cocok atau tidak. Sebaiknya dicoba-coba dulu sampai ketemu yang cocok, baru deh nyetok.

Setelah pulang dari RS, saya baru menyadari kalau Mampok standar ini tidak ada indikator pipisnya. Berhubung dedek tipe bayi yang adem ayem tentrem kerta raharja gitu, kadang kalau pipis dia tidak menangis. Lanjut bobo terus, Sist. Saya jadi rada galau dengan ketiadaan indikator pipis ini. Kasihan kalau pipis, dan ga ketahuan, jadi lama digantinya. Akhirnya saya pakein lagi dengan Pampers.  setelah saya dapat tips dari teman  untuk mencegah ruam. Dan tipsnya berhasil! Bayi Gayatri pakai Pampers tidak ruam lagi. Tips dari teman saya: menggunakan baby cream sebelum menggunakan diapers.

Namun, saya dan suami tetap penasaran dengan merk diapers lain. Siapa tahu ada yang tidak ruam dan ada indikator pipisnya. Maka saya posting pertanyaan tadi di Facebook, tentang merk diapers yang temen-temen saya pakai. Lumayan banyak yang merespon. Nah kemarin karena saya pikir ini bakal bermanfaat juga buat mamah newbie kaya saya, makanya coba saya rekap dan saya bikin postingan blog ini.

merk diaper yang dipakaiKomen lengkap dari status yang menjadi sumber gambar di atas bisa dilihat di status ini.

Saya tidak kaget dengan hasilnya. Juaranya si Mampok disusul Pampers. Tidak dapat dipungkiri kedua merk tsb memang femes sampai ke kampung kampung. Merk lain, sebagian besar saya ga familiar. Berhubung Mampok dan Pampers uda pernah nyoba, saya  seneng banget pas dikasih coba merk setelahnya yang persentasenya sama dengan Sweety, yaitu Goo.N. Kenapa seneng? Karena temen di kantor pernah satu dua kali menyebut merk ini. Selain itu produknya adalah Goo.N Excellent Dry. Kenapa tambah seneng? Karena di bungkusnya ada iming-iming kalau tipe ini mencegah ruam. Saya mah percaya aja. Trus dibilang di bungkusnya juga, kalau ada pee sign, semacam indikator pipis gitu. Ya sudahlah, cocok! Dan so far so good sih. Sampai saat ini, uda makai hampir dua bungkus, dedek ga ruam makai Goo.N. Terimakasih temen-temen yang uda kasih rekomendasi ya.

goon mencegah ruam

Tips 2: Jangan ragu untuk bertanya dan minta rekomendasi pada mama-mama senior.

Tips 3: Baca keterangan produk di kemasan baik-baik.

Gonta Ganti Merk Diapers? Yay!

Kalau dari cerita saya di atas uda jelas  ya kalau saya golongan “Yay!” buat gonta ganti merk diapers. Cuma dilihat dari komen-komen di postingan status di Facebook tadi ada juga lo yang tidak pernah gonta ganti merk diapers. Biasanya yang tidak pernah ganti merk diapers adalah yang beruntung langsung dapat merk diapers yang cocok buat bayinya (sekaligus cocok buat kantong mamahnya hihihi). Sementara sebagian besar yang komen menyatakan bahwa mereka memakai lebih dari satu merk diapers dengan berbagai alasan.

Alasan Gonta Ganti Merk Diapers

Saya mencoba merangkum empat alasan gonta ganti diapers yang paling sering disebutkan:

1 . Supaya Hemat

Kata temen-temen, belanja diapers mah wajib pas ada promo. Kalau pas ga promo, sakitnya tuh di sini *nunjuk dompet*. Bener juga sih, kalau ga promo, sebulan bisa jadi habis enam ratusan ribu sendiri cuma buat diapers. Yang mana sekali pakai buang. Nah, sayangnya merk yang promo sering berganti-ganti tiap minggunya, makanya merk yang dipakai anak pun berganti-ganti. Tergantung merk mana yang sedang promo minggu itu. Kalau mau, nyonya bisa beli sekali banyak pas promo merk yang dipakai.

Tips 4: Perhatikan jadwal promo diapers merk-merk yang dipakai.

2 . Yang Sebelumnya Bikin Ruam

Alasan ini sama dengan alasan saya. Kalau sudah ruam, mau tidak mau memang disarankan untuk ganti merk diapers. Siapa tau ada bahan tertentu dari diapers merk yang dipakai yang tidak cocok. Nah, ini saya juga baru ngeh kalau ternyata diapers itu cocok-cocokan. Jadi di satu anak bisa jadi ruam, tapi di anak lain bisa jadi tidak ruam. Ada satu teman yang malah bilang kalau anaknya semua merk dicoba selalu ruam. Over sensitif kayanya. Jalan keluarnya adalah menggunakan baby cream sebelum menggunakan diapers. And the problem solved!

3 . Kapasitas

Untuk newborn mungkin faktor kapasitas tidak terlalu menjadi pertimbangan ketika memilih/ berganti merk diapers. Hal ini karena pipis dan pupup bayi belum terlalu banyak. Namun seiring pekembangan bayi, volume pipis dan pupup makin banyak. Beberapa teman menyebutkan bahwa beberapa merk diapers lebih cepat penuh dibandingkan yang lain. Atau jika tidak penuh, mudah bergeser sehingga bocor. Alasan ini membuat mereka beralih menggunakan merk diapers lain.

Tips 5: Sesuaikan ukuran dan jenis diapers dengan umur, ukuran dan kebutuhan bayi.

4 . Karakter/ kualitas produk

Ga seperti make up atau produk otomotif yang product reviewnya merajalela di dunia maya, nyari info tentang fitur/ kualitas diapers memang agak tricky. Selain dari kemasannya, temen-temen bisa nyari infonya di forum-forum ibu. Atau sekalian aja nanya di sosmed kaya yang sering saya lakukan. Mama mama tu dengan senang dan baik hati bakal jawab pertanyaan kita loh. :love

Seperti yang saya bilang di awal, mencari diapers yang cocok itu gampang-gampang susah. Cocok buat bayi saya belum tentu cocok untuk bayi ibu. Cocok buat kantong ibu, belum tentu cocok buat kantong saya. Hahaha…. Jadi selama belum nemu yang pas, ga ada salahnya sih gonta ganti merk.

Kalau saya gitu….

Gimana dengan kamu?

Pernah ganti merk diapers tidak?

Sharing dong apa alasan dan apa tips nya! Thankyuuu :)

ganti merk diapers[sponsored post]

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share